Festival meriam karbit Pontianak dimulai

Selasa, 30 Agustus 2011 01:15 WIB | Dilihat 1532 Kali
Seorang warga mengerjakan pembuatan meriam karbit yang terbuat dari kayu belian gelondongan, di Banjar Serasan, Pontianak, Kalbar, Kamis (25/8). Meriam karbit yang merupakan permainan khas Pontianak dan dilakukan secara berkelompok di tepian Sungai Kapuas dengan posisi saling berseberangan tersebut, rutin digelar tiap tahun pada malam takbiran dan usai Sholat Id. (ANTARA/Jessica Wuysang)
Pontianak (ANTARA News) - Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin malam, tetap membuka secara resmi Festival Meriam Karbit meski pemerintah pusat telah menetapkan Idul Fitri 1432 Hijriyah jatuh pada Rabu, 31 Agustus.

Festival tersebut dibuka Wakil Wali Kota Pontianak, Paryadi, di salah satu lokasi permainan meriam karbit di gang Garuda, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Pontianak Tenggara.

Saat membuka festival tersebut, wakil wali kota mengatakan pemerintah pusat melalui sidang itsbat sudah memutuskan 1 Syawal 1432 Hijriyah jatuh pada 31 Agustus. "Meski ada ormas Islam yang berbeda dengan keputusan pemerintah itu, namun silaturahim dan kebersamaan harus terjalin dengan baik dan tidak ada perpecahan," katanya.

Berkaitan dengan festival tersebut, ia mengatakan sejarah berdirinya Kota Pontianak tidak terlepas dari berdirinya Kesultanan Kadriyah yang diawali dengan membunyikan meriam untuk mengusir hantu-hantu yang ada di kota tersebut.

"Semoga saja ikon ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Kota Pontianak, tetapi juga wisatawan mancanegara," katanya. Menurut dia lagi, beberapa hari ini sudah banyak tamu yang datang untuk menonton meriam karbit. Mudah-mudahan pariwisata Kota Pontianak semakin baik.

Dia menambahkan, pada 23 Oktober mendatang, bertepatan dengan hari jadi Kota Pontianak, maka warga di pinggiran Sungai Kapuas dapat kembali bermain meriam karbit.

Festival meriam karbit diadakan dua tahun sekali saat menyambut Idul Fitri. Pada tahun ini, festival diikuti 34 kelompok pada 50 titik dengan jumlah 279 meriam.

Menurut Ketua Forum Meriam Karbit Kota Pontianak, Syaiful Anhar, tradisi membunyikan meriam berkaitan dengan berdirinya kota Pontianak pada 23 Oktober 1771 atau 14 Radjab 1185 Hijriyah.

Saat ini tradisi membunyikan meriam selain untuk melestarikan budaya leluhur juga untuk mengundang wisatawan agar berkunjung ke Pontianak. "Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah kota yang sudah mempertahankan tradisi ini dan menjadikannya sebagai objek pariwisata," katanya.

Menurut dia lagi, melalui perhatian serius dari pemerintah kota da masyarakat setempat, kini Sungai Kapuas menjadi suatu bagian objek wisata andalan yang dapat dikunjungi oleh wisatawan lokal dan mancanegara.

Festival tersebut akan berlangsung tiga hari, yakni sehari sebelum Lebaran dan dua hari setelah Lebaran. Pesertanya merupakan warga di pinggiran Sungai Kapuas. Meriam karbit terbuat dari bahan kayu keras dengan diameter rata-rata 30 sentimeter dan panjang 4 - 6 meter.  (N005/J006/K004)