Idul Fitri momentum intropeksi diri

Selasa, 30 Agustus 2011 15:15 WIB | Dilihat 2194 Kali
Ribuan umat muslimin dan muslimat menunaikan ibadah Sholat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H di ruas Jalan Jatinegara, Jakarta, Rabu (1/10). (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Gunung Kidul (ANTARA News)- "Idul Fitri hendaknya menjadi momentum intropeksi diri karena banyak persoalan bangsa yang belum terselesaikan. Saat ini, masih banyak rakyat yang mengalami kesusahan sehingga banyak yang putus asa," kata Khotib Shalat Idul Fitri di Alun-Alun Wonosari, Muhammad Ikhsan, Selasa.

Menurut dia, meski Indonesia telah mengalami kemerdekaan selama puluhan tahun, namun masih banyak masyarakat yang kecewa karena beragam persoalan ekonomi, politik, dan sosial.

Dia mengatakan masyarakat banyak yang kecewa karena persoalan kemiskinan, terorisme, korupsi, mafia pajak, mafia hukum marak terjadi di Indonesia.

"Biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi semakin membebani masyarakat sehingga masyarakat putus asa," katanya.

Ia mengatakan persoalan itu tidak terlepas dari perilaku manusia yang menyimpang dari nilai-nilai dalam Islam.

"Korupsi, tindak kriminal menjadi contoh nyata perilaku manusia yang meninggalkan nilai-nilai Islam," katanya.

Dia mengatakan bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa dengan jumlah penduduk Muslim yang besar sehingga harus intropeksi.

Sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia, kata dia semestinya mampu menjadi bangsa yang mandiri dan kuat seperti bangsa lain.

Dia mencontohkan Indonesia yang memiliki gas alam cair semestinya mampu meningkatkan potensi ekonominya untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat.

Namun, dia mengatakan, banyak masyarakat yang merasa malu dan tidak bangga menjadi Bangsa Indonesia karena tertinggal dengan bangsa lain.

"Rasa malu menjadi bangsa Indonesia muncul karena masyarakat kecewa dengan berbagai persoalan bangsa. Padahal, bangsa ini memiliki SDA yang melimpah dan SDM yang banyak," katanya.

Ia mengatakan jika dibandingkan dengan negara maju, seperti China, maka Indonesia kalah bersaing.

China, menurut dia semakin maju karena mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat sehingga mampu menurunkan angka kemiskinan.

Selain itu, Pemerintah China, kata dia selama ini jauh lebih tegas dalam melakukan penegakan hukum.

Sebagai negara yang mengalami kemajuan dalam berbagai bidang, China, menurutnya juga berhasil mempertahankan nilai-nilai budaya mereka.

"Indonesia semestinya belajar dari keberhasilan yang dicapai China dalam berbagai bidang. Dengan kemauan yang besar, China kini mengalami kemajuan pesat karena mampu bersaing dengan Amerika Serikat," katanya.

Dia mengatakan salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut adalah berpedoman pada nilai-nilai Islam, yang bertujuan menciptakan kemakmuran seluruh umat manusia.