Utang Puasa Orang Tua yg Sakit Lalu Meninggal Dunia

Kamis, 19 Juli 2012 14:06 WIB | Dilihat 4108 Kali
Umat muslim menggelar zikir akbar dan doa dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan di Lapangan Benteng Medan, Sumut. (FOTO ANTARA/Septianda Perdana)
Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz. Ayah saya mulai sakit (kritis) hari ke-1 Ramadhan 1432 H & akhirnya meninggal dunia pada hari ke-18 Ramadhan...Wajibkah Alm. Membayarkan Fidya? Bagaimana cara menghitung nya? Adakah doa khusus nya? Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Assalamu alaikum wr.wb.

Seperti yang kita ketahui bersama orang yang mengalami sakit di bulan Ramadhan diberi keringanan untuk tidak berpuasa, apalagi jika sakitnya parah dan kritis. Hal ini  sebagaimana bunyi firman Allah Swt, "Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, ia boleh tidak berpuasa dan menggantinya di hari yang lain." (QS al-Baqarah: 184).

Lalu jika sakitnya itu berlanjut hingga kemudian meninggal dunia tanpa memiliki kesempatan untuk mengganti (membayar) utang puasa yang ditinggalkan, maka tidak ada kewajiban apapun baginya dan bagi ahli warisnya.

Terkecuali jika ia sempat sembuh dan memiliki kesempatan untuk mengganti puasa atau dari awal memang diketahui tidak akan bisa membayar utang puasa lantaran sudah tua atau sakitnya memang sulit diharapkan sembuh, maka dalam kondisi demikian ahli warisnya membayarkan utang puasanya itu dengan cara memberikan fidyah kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Besaran fidyahnya adalah sekitar setengah sha  atau 1 1/2 kg beras.

Tidak ada doa khusus yang terkait dengan fidyah tersebut. Cukup memberikan fidyah tadi dengan niat untuk membayar utang puasanya. Anda bisa berdoa untuk orang tua dalam berbagai kesempatan dengan doa seperti yang diajarkan di dalam Alquran dan Sunnah.

Wallahu a'lam bish-shawab

Wassalamu alaikum wr.wb.

Konsultasi ini merupakan kerjasama ANTARA News dan Syariahonline.com