Panganan tradisional pakat dicari selama Ramadan

Minggu, 29 Juli 2012 21:08 WIB | Dilihat 2242 Kali
Medan (ANTARA News) - Panganan tradisional pakat atau berasal dari rotan muda yang banyak terdapat di Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Sumatera utara, saat ini dicari konsumen selama Bulan Ramadan 2012.

Salah seorang penjual pakat, bermarga Simamora (45) di Jalan Medan-Tembung, Minggu, mengatakan makanan berupa pucuk muda ini benar-benar disukai masyarakat, karena setiap sore hari habis terjual.

Pada setiap harinya, menurut dia, sebanyak 300 batang pakat habis dibeli masyarakat untuk dijadikan sambal nasi. Panganan pakat ini sejak dari dulu di Mandailing Natal dan Kabupaten Tapanuli Selatan sudah lama dikenal dan makanan yang tergolong langka dan juga unik.

Selain itu, jelasnya, panganan Pakat yang rasanya kelat dan sedikit agak pahit, dapat membuat selera makan jadi tinggi. Dan apa saja makanan yang dicicipi seluruhnya menjadi enak.

"Panganan pakat ini, juga sekaligus dapat berfungsi jadi obat. Bagi warga yang mengalami pencernaan kurang lancar, apabila makan pakat dapat sembuh," ujarnya.

Dia mengatakan, makanan pakat ini dijual setelah dipotong-potong dengan ukuran 60 centimeter, dan lalu dibakar hingga matang dan mengeluarkan getah warna putih.

Kemudian pakat tersebut dibelah dan ditemukan pucuk berwarna hijau muda, dan dipotong-potong ukuran kecil untuk dijadikan penyedap atau "penambah selera makan" bagi konsumen selama bulan puasa ini.

"Panganan Pakat ini sangat enak dicampur dengan kelapa, dan lalu digonseng hingga matang, barulah enak dimakan sama nasi, setelah berbuka puasa," ujarnya.

Ketika ditanya berapa harga panganan pakat pada bulan Puasa ini, Simamora mengatakan, relatif murah. Tiga batang pakat itu harganya hanya berkisar Rp5.000.-

Panganan yang unik dan menarik ini, hanya tertentu dijual di Kota Medan, yakni di Jalan Letda Sudjono, Jalan Prof M Yamin, Jalan Denai dan Jalan Medan-Tembung.

"Harga panganan tersebut masih terjangkau konsumen dan masyarakat di Kota Medan. Kita juga tidak mungkin menjualnya dengan harga tinggi. Bisa-bisa barang tersebut tak ada yang membelinya, dan kita juga jadi rugi," ujarnya.

Seorang pembeli panganan pakat, bermarga Lubis (53), mengatakan selama dirinya memakan makanan pucuk rotan muda ini, semangat makan cukup tinggi dan bertambah-tambah.

"Saya sebelum berbuka puasa, tetap membeli tiga batang pakat yang sudah dibakar dan tinggal memotong kecil-kecil dan membawanya langsung ke rumah untuk diberi bumbu yang enak," kata Lubis.
(M034/R010)