Masjid Suku Anak Dalam perlu perhatian

Senin, 30 Juli 2012 23:52 WIB | Dilihat 2065 Kali
Jambi (ANTARA News) - Masjid milik warga Suku Anak Dalam (SAD) yang telah memeluk Islam (mualaf) yang tinggal di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten sarolangun, Jambi, membutuhkan perhatian pemerintah dan swasta karena kondisinya masih belum memadai.

Nugraha, salah seorang warga SAD Bukit Suban yang ditemui, Senin, mengatakan, masjid yang selama ini digubakan warga SAD di desanya masih jauh dari memadai dan masih perlu ditingkatkan agar layak digunakan.

"Masjid ini dibangun atas bantuan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus dan sejumlah dermawan dan iuran swadaya masyarakat Desa Bukit Suban dan sekitarnya. Kami sangat berterima kasih. Tapi kami masih butuh bantuan untuk menyempunakan tempat ibadah ini," katanya.

Kondisi masjid memang masih jauh dari sempurna sebab masih terkendala dana penyelesaian masjid, karena itu ia mengharapkan agar ada bantuan dari pemerintah supaya tempat ibadah masyarakat SAD bisa nyaman digunakan.

"Kami sangat berharap agar masjid ini bisa cepat selesai. Sehari-harinya, warga aktif menggunakan masjid guna kegiatan ibadah seperti salat berjamaah, pengajian ibu-ibu dan anak-anak dan kegiatan agama Islam lainnya," katanya.

Ia mengaku, panitia pembangunan masjid sebenarnya telah melaporkan kekurangan dana ke Pemkab Sarolangun, termasuk untuk pembangunan kubah masjid, namun hingga kini belum mendapatkan tanggapan.

Nugraha bertekad untuk mendorong warga SAD atau Orang Rimba agar menjadi muslim yang baik dan taat, namun hal ini juga harus diimbangi dengan keberadaan tempat ibadah yang memadai.

Warga SAD merupakan suku asli Provinsi Jambi yang selama ini hidup berpindah-pindah (melangun) dari satu kawasan hutan ke kawasan hutan lainnya.

Namun, sebagian dari mereka, khususnya yang bermukim di Kabupaten Sarolangun, sebagian sudah ditempatkan di permukiman permanen dan mereka juga sudah memeluk agama Islam, salah satunya di Desa Bukit Suban.

Dari pantauan di lapangan, kondisi masjid warga SAD berukuran 10X20 meter itu memang masih memprihatinkan, kubah masjid saat ini ditutup dengan ember agar jika hujan tidak bocor, dindingnya pun belum diplester.
(KR-YJ/E003)