Sambut malam Takbiran, Masyarakat Pontianak buat meriam karbit

Minggu, 12 Agustus 2012 14:34 WIB | Dilihat 6410 Kali
Ilustrasi. Seorang warga mengerjakan pembuatan meriam karbit yang terbuat dari kayu belian gelondongan, di Banjar Serasan, Pontianak, Kalbar. Meriam karbit yang merupakan permainan khas Pontianak dan dilakukan secara berkelompok di tepian Sungai Kapuas dengan posisi saling berseberangan tersebut, rutin digelar tiap tahun pada malam takbiran dan usai Sholat Id. (ANTARA/Jessica Wuysang)

Pontianak (ANTARA News) - Masyarakat Kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur, sejak sepekan terakhir bergotong-royong membuat meriam karbit sebagai persiapan dalam perayaan menyambut malam Idul Fitri mendatang.

"Tahun ini kami membuat sembilan meriam yang dibuat secara gotong-royong," kata Ketua Panitia Ikatan Remaja Meriam Karbit Batas Kota Pontianak, Mawardi di Pontianak, Minggu.

Ia menjelaskan, kesembilan meriam yang dibuat tahun ini itu akan ditampilkan pada perlombaan meriam karbit tahun 2012 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pontianak.

Terdiri dari tujuh buah dibuat dari batang pohon durian, dan dua buah dari pohon kelapa dengan panjang enam meter, serta berdiameter 50 centimeter.

"Hampir setiap tahun kami selalu mengikuti festival meriam karbit yang diselenggarakan oleh Disbudpar Kota Pontianak, demi melestarikan budaya Melayu, yakni menyulut meriam karbit pada malam takbiran," ujarnya.

Ikatan Remaja Meriam Karbit Batas Kota Pontianak, tahun 2012 ini menargetkan bisa meraih juara pertama lomba festival meriam karbit yang diadakan oleh Disbudpar Kota Pontianak, kata Mawardi.

"Tahun lalu, kami memperoleh juara ketiga se-Kota Pontianak, mudah-mudahan tahun ini kami bisa juara pertama," kata Mawardi optimistis.

Proses pembuatan meriam karbit tersebut terbilang rumit karena terbuat dari kayu durian dan pohon kelapa yang cukup keras. Pohon tersebut kemudian dibelah untuk dibuang isinya.

"Pohon durian dan kelapa yang telah dibelah, kemudian diikat menggunakan tali rotan dan disikat hingga menjadi bersih dan dicat dengan warna yang menarik," ungkap Mawardi.

Sebelumnya, Wali Kota Pontianak Sutarmidji menyambut baik, masih dilestarikannya permainan meriam karbit oleh masyarakat Melayu yang berada di sepanjang pinggir Sungai Kapuas Pontianak.

"Dari zaman dahulu meriam karbit selalu memeriahkan sepanjang bulan Ramadhan dengan suara dentuman khas yang bisa menyemangatkan masyarakat dalam menyambut bulan puasa dan malam takbiran," katanya.

Pemerintah Kota Pontianak, telah mengeluarkan Peraturan Wali Kota Pontianak, yang salah satu isinya melarang membunyikan meriam karbit sepanjang bulan Ramadhan dan hanya boleh dibunyikan pada malam takbiran hingga H+3 Idul Fitri.

(A057/T011)