Berkah Ramadhan bagi pembuat kue

Senin, 29 Juli 2013 02:55 WIB | Dilihat 3458 Kali
Pedagang makanan ringan menjajakan daganganya di Pasar Kliwon, Kudus, Jateng, Kamis (24/7). Pada bulan Ramadhan penjualan makanan ringan meningkat sekitar 40 persen dan diperkirakan akan melonjak tajam saat mendekati Idul Fitri. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) ()
Serang (ANTARA News) - Sudah menjadi hal biasa di masyarakat, kebutuhan akan aneka jenis "makanan ringan" selalu melonjak saat Ramadhan tiba.

Puncaknya akan berlangsung saat menyambut Lebaran 1434-H nanti, tidak terkecuali bagi pembuat kue.

Sehingga Ramadhan dan Lebaran selalu "mengalirkan" berkah tersendiri bagi para pembuat kue dan aneka penganan lain. Karena permintaan atau pesanan yang berlipat.

Seperti usaha kue yang digeluti Herawati (45), pengusaha industri rumahan di Kota Serang, Banten, ini mengaku tiap Lebaran omzet yang diperolehnya bisa lebih dari dua kali lipat dari bulan-bulan biasa.

Herawati yang mengaku membuat kue awalnya dari iseng-iseng hanya untuk konsumsi keluarga, yang kemudian karena banyak yang berminat sehingga ia bersama suaminya memutuskan membuka usaha itu pada 1997, kini kue yang ia beri merek "Dara Snack & Cake" berkembang cukup pesat.

Perempuan asal Betawi yang sudah memiliki dua anak ini mengaku pandai memasak belajar dengan suaminya dan rajin membaca majalah "Sedap".

Ia mengaku pula awal belajar membuat kue belum terpikir dijadikan untuk usaha, tetapi hanya untuk konsumsi sendiri dan keluarga terdekat serta tetangga, namun dari mulut ke mulut banyak yang tahu, dan minta dibuatkan kue bolu, kue yang pertama kali dicoba pada 1997.

Mengingat semakin banyak yang memesan, maka Herawati memutuskan untuk memperdalam ilmu memasak, yaitu mengikuti kursus memasak di Jakarta, tentu dengan seizin suaminya.

Selesai kursus, Herawati mulai mencoba memperbanyak jenis kue yang dibuat, dan saat ini sudah ada sekitar 80 jenis kue yang dibuatnya, antara lain kue basah berupa "cake", "black forest cake", lapis Surabaya, cake keju dan "brownies".

Kemudian kue kering seperti nastar, putrid salju, sagu keju, "good time" dan kue kacang.

Herawati mulai memberanikan diri menjual kue buatannya sejak anak pertamanya Dara Zuraima lahir pada 2000, kemudian setelah ada kemajuan mulai terima pesanan sekitar tahun 2005.

Anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan suami istri Gozali (alm) dan Mas`ah ini mengaku pertama jualan tidak banyak keuntungan yang diambil, artinya dengan belanja sebesar Rp15.000 maka kue yang jadi dijual tidak banyak untung yang diambil.  "Yang Penting bisa balik modal saja dahulu," katanya.

Ia mengaku mulai banyak pesanan sejak lima tahun terakhir ini, dan tidak hanya pemesan dari Kota Serang saja, tetapi juga Pandeglang, Rangkasbitung dan Cilegon, bahkan sampai ke Jakarta.

Kue yang dibuatnya juga terjual melalui kerja sama dengan catering dan Rumah Sakit Kencana yang tiap hari pesan untuk keperluan pasiennya.

Tiap hari rata-rata ia membuat kue sebanyak 7.500 buah dengan harga rata-rata Rp1.250, maka omzet perhari sekitar Rp9,3 juta, dan dari jumlah tersebut ia hanya mengambil untung 35 persen dari omzet.

Namun menjelang Lebaran, ia akan membuat kue lebih dua kali lipat dari hari-hari biasa, sehingga omzet yang diterima perhari juga meningkat dua kali lipat.

"Kalau hari biasa dapat Rp9,3 juta per hari, maka pada hari Lebaran bisa Rp20 juta perhari."

Mengenai tenaga kerja, Herawati hanya menggunakan dua orang tenaga tetap, selebihnya tenaga harian yang dipanggil bila ada pesanan, umumnya tetangga terdekat.

"Karyawan system panggil, bila ada kerjaan maka ia diberi upah Rp30.000 untuk perempuan, dan untuk laki-laki sebesar Rp40.000," kata Herawati yang mengaku tidak berani mengambil "order" terlalu besar, takut tidak terlayani.

Herawati memperkenalkan kue buatannya melalui penyebaran brosur baik melalui angkot atau ke rumah-rumah penduduk, dan juga melalui pameran yang diajak oleh dinas perdagangan setempat atau melalui bank binaanya.

"Bank Jabar Banten adalah bank yang membina saya, dan sering diikutsertakan dalam sebuah pameran," kata Herawati yang mengaku pinjam modal untuk buka toko sebesar Rp10 juta di Raya Pandeglang, namun toko itu ditutup kembali karena tidak banyak kue yang laku.

Herawati bercita-cita mempunyai toko sendiri, dan ingin pula membuka dapur center, yaitu tempat khusus bagi ibu-ibu atau anak taman kanak-kanak belajar membuat kue.

Ia memiliki kunci sukses, yaitu kalau ingin maju, jangan takut dengan kegagalan, Karena kegagalan itu untuk mencapai kesuksesan,

Herawati cukup luwes bergaul dan senang berorganisasi, yang kini menjadi anggota Forum KUKM di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Serang, Banten.

Mensyukuri Ramadhan

Pembuat kue lainnya juga sama dengan Herawati, pada Bulan Ramadhan ini adalah bulan berkah karena tidak sedikit yang memesan kue untuk keperluan lebaran.

Sri Sugihartini tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena sudah banyak pesanan yang datang, tinggal mengelolanya lagi.

Ibu yang dikaruniai dua anak ini membuat kue di rumahnya di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, itu awalnya membuat kue secara rutin setiap hari hanya membawa beberapa bungkus olahannya berupa makanan ringan sistik dan kue bakar jahe ke pabrik tempat bekerjanya.

Namun semakin lama semakin banyak yang menyukai hasil olahannya tersebut sehingga semakin banyak pesanan apalagi pada saat hari raya lebaran. Oleh karena itu ibu sri tahun 2008 memutuskan untuk keluar dari tempat bekerjanya untuk lebih serius mengelola usahanya tersebut bersama-sama dengan suaminya dan dibantu oleh dua orang tenaga kerja.

Karena pesanan makin banyak, yang bersangkutan mengemukakan kendalanya waktu itu hanya permodalan, dan ia disarankan oleh rekan usahanya untuk mengajukan modal usaha ke bank OCBC NISP, dan pada tanggal 10 Agustus 2010 direalisasikan kredit modal usaha dari Bank OCBC NISP microbanking Rangkasbitung sebesar Rp 5000.000 itu awal dan pertama kali ibu sri mengenal kredit pinjaman di bank.

Semangat dan optimisme itulah yang terlihat dari Sri dan pasangan, dengan penambahan modal usaha dari hasil pinjaman bank, ia mencoba untuk memaksimalkan usahanya dengan menambah produk yang dipasarkannya aneka ragam makanan ringan dan kue berupa: keripik pisang, keripik singkong, keripik bawang, sistik, kue bakar jahe dan kue bakar wijen.

Setelah fasilitas pinjaman pertama lunas dan seiring dengan perkembangan usahanya, maka pada 18 Mei 2011 terealisasi pinjaman ke 2 dari Bank OCBC NISP sebesar Rp7.000.000.

Awalnya kecil-kecilan tidak pernah terpikir bisa seperti saat ini, walau tidak besar.

"Tapi Alhamdulillah dari hasil usaha kue dan makanan ringan bisa menghidupi kebutuhan keluarganya," seperti yang dikemukakan suami ibu sri dengan nada semangat dan optimistis.

Apa yang dikemukakannya memang benar awalnya dari hanya sekedar iseng dan kecil-kecilan dimana produksi dilakukan secara sederhana menggunakan kayu bakar dan kompor minyak, sekarang untuk memenuhi pesanannya ibu sri sudah memiliki oven kue dan kompor gas sehingga proses produksi bisa lebih cepat.

Walau belum besar seperti pengusaha kue dan makanan ringan akan tetapi usahanya sekarang banyak dilirik bank, beberapa bank sudah menawarkan pinjaman baik yang tanpa agunan maupun yang memakai agunan bahkan dari pihak Pemkab Lebak.

(R010/A035)