Marhaban Ya Ramadhan

Kamis, 12 Agustus 2010 17:26 WIB | Dilihat 3589 Kali
Prof DR Aziz Fachrurrozi, MA*)
Prof Dr Aziz Fachrurrozi, MA (ANTARA News/arloebis)
Jakarta (ANTARA News) - Salah satu keagungan Ramadhan adalah dia disebut bulan barokah yang dalam bahasa manajemen berarti meningkatnya kualitas kinerja (amal), karena salah satu makna barokah adalah bertambah.

Tentu saja berpulang kepada masing-masing orang bagaimana memposisikan keagungan Ramadhan itu dengan berbagai aktivitas yang tidak hanya meningkat secara kuantitas tetapi juga secara kualitas.

Untuk bisa sampai pada tingkat seperti yang digambarkan di atas, tentu perlu ada kesiapan mental untuk menghadapi kehadirannya, yang tentu saja akan menyertai orang-orang yang beruntung.

Kesiapan mental itu terkait dengan dimensi ibadah vertikal atau Hablun Minallah dan dimensi horizontal atau Hablun Minannas.

Artinya, memasuki Ramadhan yang juga sering disebut bulan suci, dan kita beribadah untuk yang Maha Suci, maka diri yang berpuasa harus suci.

Kalau kita pada tahun-tahun sebelumnya masih punya utang puasa, hendaknya segera dibayar sedangkan hubungan antar sesama manusia jika terkait dosa nonmateri, harus dibersihkan dengan saling memohon maaf.

Perbuatan memohon maaf merupakan sikap terpuji, tetapi lebih terpuji lagi orang yang pemaaf, itulah sebabnya Allah mengharamkan surganya bagi mereka yang sombong, pendendam dan arogan.

Dalam menyambut Ramadhan, sebagian masyarakat muslim menyambutnya dengan ekspresi yang berbeda.

Ada melakukan ziarah kubur, ada yang sungkeman pada orangtua, ada juga yang mandi bersama secara massal di suatu tempat yang disakralkan.

Dari kegiatan itu, ada yang sesuai dengan ajaran ada pula yang perlu diluruskan dari sisi cara bahkan mungkin perlu diluruskan secara substansial.

Dalam praktik keberagamaan di masyarakat kita, yang telah terlebih dahulu tertanam adalah pola peniruan ketimbang karena berbasis pengetahuan dan hasil pembelajaran.

Ini dapat dipahami karena proses kajian menyangkut keabsahan pembelajaran agama sering datang terlambat.

Sebenarnya Ramadhan sebagai bulan kesembilan dalam kalender hijriah, bukan berdiri sendiri terlepas dari bulan sebelumnya, melainkan ada hubungan kuat dalam membentuk momentum ketaqwaan dan kesiapan mental.

Bulan yang disebut Sya'ban yang di dalamnya ada kegiatan Nifsu Sya'ban merupakan hari-hari yang dipahami sebagai pergantian catatan amal baik buruk, agar kita menutupnya dengan yang lebih positif dan kita membuka catatan baru yang bersih dan penuh kegiatan positif pula.

Karena itu, seandainya kita merasa hidup dalam kelalaian, pada bulan Ramadhan diharapkan kinerja amal kita meningkat semakin positif dan berkualitas.

Meskipun demikian, patut kita cermati hubungan antara yang ditawarkan oleh Ramadhan dengan naiknya angka inflasi dan gaya hidup konsumeratif, misalnya, terasa semakin tidak ada korelasinya.

Ramadhan menuntut kesederhanaan--dan lebih banyak berbagi dengan orang lain--akan tetapi dalam hal kita berbelanja atas nama Ramadhan justru semakin meningkat baik secara kuantitatif mau pun kualitatif.

Kultur yang mengepung kita demikian kuat sehingga kita tidak bisa bertahan dengan gaya hidup sederhana.

Ya, memang tidak mudah kesederhanaan yang dibelajarkan oleh nabi dan para sahabat untuk para pengikutnya menjadi benar-benar Uswah Hasanah.

Sehingga pesan Ramadhan hampir tidak melekat menjadi bagian perilaku. Hal tersisa dari kegiatan ibadah, baik harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan, baru pada tataran ritual rutin dan seremonial, walau dari segi maraknya bisa jadi meningkat dan patut juga disyukuri.

Inilah kondisi yang patut kita renungkan bersama.

Maraknya kegiatan-kegiatan ibadah, bahkan relatif berkurangnya tempat hiburan mesum legal mau pun ilegal, di bulan suci bisa saja terjadi, ini karena lebih didukung ibadah massal, sehingga semangat individual tumbuh.

Sebagai contoh, pada bulan Ramadhan kita sanggup mengerjakan salat sunnah dalam jumlah rakaat terbanyak dibanding jumlah rakaat salat sunnah yang kita kerjakan pada waktu lain.

Semangat ini jelas didukung oleh adanya interaksi sosial yang benar-benar posisi dan semangat "Taawanu alal birri wal al taqwa" begitu terasakan. Sebaliknya saat ibadah mulai susut, ikut juga memengaruhi yang lain.

Ini berarti "taawanu all birri wa taqwa wala taawanu alal itsmi wal udwan" penting ditegakkan oleh setiap orang pada setiap saat.

Ini membuktikan perlunya setiap individu menjalani "dicash" (dihidupkan nuraninya) lewat pembinaan khusus.

Makanan nurani
Masyarakat bangsa yang hidup pada era penuh problem ini, makin membutuhkan makanan nurani yang bisa menyejukkan hati, membangkitkan rasa optimistis mengurangi stres dan siap berkompetisi untuk menjadi orang terbaik yang teruji secara moral dan mental.

Marilah sejenak kita sisihkan hiruk-pikuk duniawi yang penuh dusta dan tipu daya, untuk berganti pakaian yang menyuburkan suasana batin keagamaan, bekerja dengan penuh dedikasi, kreatif dan tanggung jawab.

Adalah ketulusan yang akan mengantar kita sukses menghadapi segala tantangan hidup dan kerasnya zaman.

Banyak lembaga-lembaga besar dan populer, kini terpaksa harus menjual aset karena krisis dan hilangnya ekspektasi masyarakat.

Tidak ada nikmat didatangkan secara cuma-cuma, tanpa kerja keras dan tidak ada kerja keras tanpa kerja sama dan tidak ada kerja sama tanpa kekurangan.

Karena itu, apa yang disebut sukses bukanlah tercapainya tujuan dan cita-cita, melainkan sukses adalah kemampuan mengatasi problem untuk meraih cita-cita dan sampai pada tujuan.

Seorang tokoh sufi berkata, dalam hal Anda bekerja sama atau bersama orang lain, janganlah berharap pada orang lain sepenuh apa yang anda inginkan, sebab jika demikian Anda menjadi orang yang kecewa sepanjang masa.

Ramadhan ini Allah hadirkan untuk umat Islam yang pandai-pandai mengelola hidup, karena yang kita cari adalah keridhoan Allah, sehingga apa gunanya mencari popularias dari sesama manusia.

Mengapa justru manusia bekerja menunggu perintah dan pengawasan.

Kita sebagai pelanjut dan pewaris perjuangan tokoh-tokoh pendahulu telah banyak kehilangan momentum untuk mengembalikan citra dan kemajuan, karena energi kita habis untuk bekerja yang rutin.

Padahal berpikir pengembangan secara ekstensif harusnya dimulai saat peluang itu ada di depan mata kita.

Kini kita berkewajiban untuk mengembangkan pemikiran secara intensif dalam usaha ambil peran mencerdaskan anak bangsa agar memiliki peradaban dan kerkeadaban.

Ini makna yang disyariatkan dalam bulan Ramadhan dan harus dimunculkan di lingkungan kita.

Semoga kita dapat meraih keagungan Ramadan melalui kesiapan mental yang selalu mengikrarkan "Amar ma'ruf nahil munkar".

Kita belajar bermunajad kepada Allah agar ditunjukkan jalan menuju ridoNYA. (**)


*) Prof Dr Aziz Fachrurrozi adalah ketua program pasca sarjana Pemikiran Agama Islam Universitas Islam Jakarta.