Umrah Ramadhan: Labbaik Allahummah Labbaik

Jumat, 13 Agustus 2010 23:11 WIB | Dilihat 2534 Kali
Ilustrasi (ANTARA/Saptono)
Jakarta (ANTARA News) - "Sekarang ini sulit dapat pesawat. Empat maskapai penerbangan yang secara rutin melayani rute Jakarta - Jeddah sudah fully book sejak hari ini. Permohonan visa pun sejak semalam sudah ditutup" kata Asrul Aziz Taba, Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah RepublikIndonesia (AMPHURI), Selasa (10/8) siang kepada penulis.

Harap dibaca statemen Asrul tersebut adalah bagian dari cerita sukses penyelenggaran umrah di bulan Ramadhan. Rombongan pertama jamaah Umrah Ramadhan dari Indonesia telah diterbangkan secara hampir serentak Selasa lalu, sehari sebelum awal puasa.

Ramadhan tahun ini tercatat sekira 25.000 warga Indonesia berumrah ke tanah suci. Angka itu meningkat pesat dibandingkan tahun lalu. Seperti diungkap barusan, banyak warga masyarakat yang kecewa tidak bisa berangkat karena tempat duduk (seat) pesawat yang terbatas, serta pengeluaran visa haji yang keburu ditutup kedubes Kerajaan Arab Saudi di Indonesia.

Umrah Ramadhan sudah sejak lama menjadi obyek wisata rohani umat Islam di seluruh dunia. Data Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) mencatat peningkatan setiap tahun. Pada 2008, jumlahnya 3.107.318 orang, dan 30 persen dari jumlah itu, sekira sejuta umat, berumrah di bulan Ramadhan. Adapun di tahun 2009 menjadi 3.849.216 umat berumrah. Bagaimana dengan tahun 2010?

Komite Nasional Ibadah Umrah Pemerintah KAS, Jameel Al Qurashi, yakin pada tahun ini jumlah umat yang berumrah akan melampaui angka 4 juta jamaah, atau sekira 1,4 juta hingga 1,5 juta yang umrah selama Ramadhan.

Dalam data top umrah tahun 2009, Indonesia memang masih menduduki nomor buncit, yakni 108.000 jiwa. Namun, dari letak negara yang jarak geografisnya terjauh dari Arab Saudi, Indonesia bertengger pada urutan osatu. Sedangkan peringkat 1 sampai 9, datang dari negara yang jaraknya dengan Arab Saudi rata-rata diistilahkan cuma sepelemparan batu.


Diajak Aa Gym

Umrah Ramadhan juga sangat popular di tanah air. Banyak peminat, terutama pada hari-hari Lailatul Qadar, karena dianggap sama nilainya dengan ibadah haji. Di tanah air, ada delapan pemberi jasa layanan (provider) yang mengantongi izin menyelenggarakan Umrah Ramadhan. Terdiri atas tiga sesi, yakni sepuluh hari pertama, sepuluh hari kedua, dan Lailatul Qadar atau sepuluh hari ketiga Ramadhan. Umrah Ramadhan lebih mahal dibanding umrah biasa. Biaya umrah Ramadhan Rp17 juta hingga Rp25 juta. Lailatutul Qadar paling mahal, bisa sampai Rp40 juta.

Ketika kyai kondang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) suatu sore di bulan September 2006 menelpon saya mengajak berumrah Ramadhan, maka kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Itulah untuk pertama kalinya saya bisa merealisasi impian lama: berpuasa di tanah suci Makkah dan Madinah yang menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia.

Labbaik Allahummah Labbaik, Labbaik Lasyarikalah Labbaik. Innalhamda wanikmata Lakamalmuk Lasyarikalah... (Ya, Allah saya datang memenuhi undanganMu, bertamu di rumahMu. Ketika berumrah itulah kami mencicipi nikmatnya berpuasa sampai tigapuluh satu hari pada Ramadhan 1427 H. (lihat tulisan di ANTARA News: "Pengalaman Berpuasa 31 Hari").


Tarawih di Masjidil Haram

Saya mencatat beberapa hal yang amat mengesankan dalam Umrah Ramadhan. Pertama, bisa mengatasi kendala cuaca panas, yang waktu di tanah air sempat bikin hati kecut: bagaimana menahan lapar dan dahaga dalam suhu udara yang panas?

Tetapi, Allah SWT Maha Pelindung dan Maha Pemurah, ternyata saya tidak merasakan gangguan dimaksud. Malah sempat terlupa ketika itu dilakoni dan bisa dilalui dengan manis. Padahal, selama masa umrah di tanah suci, masa istirahat tidur sangat kurang. Doa yang yang selalu kami panjatkan kepada Beliau, "Ya, Allah berikan kami kemudahan selamanya." Alhamdulilah, ternyata dikabulkan.

Kedua, shalat tarawih di Masjidil Haram amat terkenal kerap tidak sanggup diikuti oleh kebanyakan jamaah Indonesia karena imam tarawih seringkali membacakan surat-surat panjang. Tarawih pertama yang saya ikuti, memang merasakan paha dan betis panas dan kaku. Tetapi, tarawih berikutnya tubuh terasa sudah mampu menyesuaikan diri. Tarawih di Baitullah syahdu, nyaman, dan indah sekali.

Ketiga, program Darul Tauhid selama umrah yang saya nilai sangat bagus. Hampir tidak ada waktu di sela-sela antara shalat dan waktu istirahat yang tidak diisi dengan ceramah atau tausyiah oleh Aa Gym, Teh Nini, dan beberapa Ustad anggota Darul Tauhid, seperti Ustad Komaruddin. Yang paling berharga adalah konsultasi pribadi dengan Aa Gym setiap kali selesai salat subuh. Kalau di Makkah tempatnya di Masjidil Haram, area yang dipilih di lantai dua, persis berhadapan dengan Multazam, yang terletak antara Hajar Aswad dan pintu Kabah. Tempat itu amat dipercaya mujarab untuk memanjatkan doa. Doa apa saja.


Berebut Lapak Bersedekah

Pemandangan yang menarik itu terjadi, setiap kali menjelang Maghrib di halaman Masji Nabawi di Madinah maupun Masjidil Haram di Makkah. Tiba-tiba saja ratusan orang "gaduh" berebut lapak di halaman luar masjid. Lapak-lapak itu dipergunakan menggelar berbagai jenis makanan berbuka. Ada kurma, roti, nasi beras mandi, nasi kabuli dengan lauk pauk kari, daging domba panggang dan sebagainya. Minuman yang disediakan air mineral, teh susu, atau teh campur kapulaga.

Saya sempat malu sendiri karena semula mengira warga Arab itu berebut lapak untuk berjualan. Saya sempat membatin, pedagang di mana saja selalu mencari kesempatan untuk cari untung. Bayangkan, berapa ratus ribu jiwa yang memenuhi Masjidil Haram dan berapa puluh ribu jiwa di Mesjid Nabawi tiap kali shalat Maghrib. Ternyata kebalikannya: mereka berebut lapak bukan untuk berdagang, tapi untuk bersedekah membagi makanan berbuka kepada jamaah. "Ampun Ya Allah," gumam saya.

Para petugas yang dikerahkan para dermawan Arab rata-rata remaja. Memang umumnya berlaku seperti pedagang yang biasa menjajakan dagangan di tempat umum. Dari kejauhan melambai kepada siapa saja agar mendekat ke lapaknya. Yang kebetulan lewat dekat di situ, lengannya langsung digelayuti diarahkan mampir di lapak.

Tidak cuma di halaman luar, bagian petugas mereka juga sigap "merazia" jamaah untuk diberi makanan guna membatalkan puasa.

Dengan pengalaman itu, maka saya pun percaya diri setiap kali diminta menyampaikan kesan dalam acara ratiban kawan dekat yang akan berangkat haji maupun umrah. Bicara soal umrah, dan ibadah haji buat saya bilang paling gampang. Kita bisa langsung ambil kesimpulan sebelum menyampaikan ulasan. Kesimpulannya cuma dua: nikmat dan nikmat sekali. Namun, selalu saya ingatkan agar meneledani kearifan orang Betawi kalau menginjak tanah suci. Yaitu: "punya mata jangan selihat-lihatnya; punya telinga jangan sedengar-dengarnya; dan punya mulut jangan seomong-omongnya."

"Labbaik Allahumma Labbaik..."


*) H. Ilham Bintang (ilhambintangmail@yahoo.co.id, ilhambintang@cekricek.co.id, twitter: @ilham_bintang) adalah Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan Pemimpin Redaksi Tabloid Cek&Ricek (C&R).