Berlin/Bastad (ANTARA News) - Sementara Ramadhan mulai di Jerman pada Senin, Khairullah Swaid, pencari suaka dari Suriah, mengatakan akan berdoa agar bisa bergabung kembali dengan istrinya.

Pasangannya itu terdampar di kampung di Yunani dan merindukan makanan, sepotong daging dan nasi buatan ibunya, yang disediakan selama Bulan Puasa.

Bulan suci bagi umat Islam pada tahun ini dimulai pada 6 Juni. Sebagai Muslim dewasa, Khairullah berpuasa sejak fajar hingga matahari terbenam.

Tapi, ia dan ratusan ribu pendatang ke Eropa pada tahun lalu tak dapat menikmati hidangan kegemarannya bersama keluarga dan teman pada waktu malam.

Bagi pendatang itu -yang sebagian besar lari dari perang, sengketa dan kemiskinan di Suriah, Afghanistan, Irak dan lain-lain- Ramadan saat ini sangat jauh berbeda.

Di Jerman, sebagian besar migran tinggal di penampungan tempat mereka telah lama keluhkan karena makanan yang disediakan perusahaan yasa boga yang dikontrak pihak setempat "tak dapat dimakan". Mereka menyampaikan penentangan.

"Anda tak punya makanan baik di saat Ramadhan," kata Khairullah, duduk dekat saudaranya Hamza di sebuah kedai makanan populer Suriah di Neukoelln, distrik msikisn di Berlin, dengan jumlah mingran yang besar.

Khairullah, yang tinggal di penampungan utara ibu kota Jerman, menghabiskan sebagian besar uangnya sebesar 120 euro, yang ia peroleh sebulan untuk biaya makan. Ia dan pencari suaka lain makan roti, nasi dan sayur, yang mereka masak dengan menggunakan ketel.

"Saya kehilangan istri saya, tetapi selama Ramadhan saya akan lebih kehilangan makanan yang dibuat ibunya," kata dia bercanda beberapa hari sebelum Ramadhan, makan beberapa potong roti isi daging ayam dan bawang putih ala kebab.

Banyak tempat penampungan di Berlin menyelenggarakan Ramadhan untuk pertama kali dan beberapa berusaha menjamin pengalaman menikmati dengan lahap.

Di Tempelhof, sebuah bekas bandar udara yang dibangun Hitler untuk menunjukkan kekuatan Nazi dan sekarang menampung sebanyak 5.000 migran, kata seorang wanita juru bicara dari sebuah perusahaan yang mengeelola tempat penampungan itu mengatakan para tamu akan ditawari kurma dan air setelah berpuasa sesuai dengan tradisi Muslim. Demikian laporan Reuters.

(Uu.M016/B002)

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2016