Warga Prancis tertarik "Lebaran Topat" di Lombok

Rabu, 13 Juli 2016 19:44 WIB
3.611 Views
Warga Prancis tertarik "Lebaran Topat" di Lombok
Warga memadati pantai saat merayakan tradisi Lebaran "topat"( ketupat ) dipantai Duduk, Kecamatan Batulayar, Gerung, Lombok Barat, NTB. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi) ()
Lombok Barat (ANTARA News) - Michael, salah seorang warga negara Prancis mengaku sangat tertarik dengan prosesi adat perayaan "Lebaran Topat" yang digelar Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat karena memiliki keunikan.

"Tradisi budaya ini unik sekali, satu-satunya ada di Lombok, tapi tidak banyak turis yang datang," kata Michael, yang ditemui wartawan ketika mengikuti perayaan Lebaran Topat di pantai Duduk, Desa Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Rabu.

Warga negara Prancis yang mengaku sudah tujuh tahun tinggal di Lombok, menilai tradisi adat Lebaran Topat hanya ditemukan di Lombok, sedangkan di daerah lain tidak ada.

Namun, promosi even budaya ini terkesan kurang. Michael yang memperistri orang lokal menyayangkan kurangnya promosi, sehingga tidak begitu banyak wisatawan asing yang menyaksikan.

"Seharusnya jika diketahui ada even semacam ini, maka para turis mungkin akan ramai-ramai datang ingin menyaksikan," ujarnya.

Menanggapi kritikan dari wisatawan asing, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengatakan, kritikan membangun tersebut akan dijadikan bahan evaluasi supaya ke depan tradisi Lebaran Topat dibenahi.

Menurut dia, salah satu kendala melibatkan wisatawan karena parameter waktu perayaan Lebaran Topat tidak bisa dipatok kapan pelaksanaannya.

"Pelaksanaannya selalu berubah-ubah karena yang menjadi patokan kalender Hijriah. Ini adalah salah satu kesulitannya," katanya.

Meskipun demikian, kata Fauzan, Dinas Pariwisata perlu merancang waktu pelaksanaan, sehingga wisatawan bisa diundang lebih awal menghadiri Lebaran Topat.

Ia juga meminta Dinas Pariwisata lebih kreatif menggelar even budaya tersebut, terlebih Lebaran Topat sudah terdaftar di Kementerian Pariwisata, untuk diusulkan menjadi kalender nasional, namun belum diputuskan.

"Kelebihan jika masuk kalender nasional, dari sisi promosi

dan dukungan biaya akan lebih besar dari pusat," ucapnya.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar
Pemimpin Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal KH Nuril Arifin Husein mengajak umat Muslim untuk menyebarkan perdamaian dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri."Kita ...
Volume penumpang selama masa angkutan Lebaran 2017 di wilayah PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 5 Purwokerto naik 15,29 persen dari tahun sebelumnya, kata Manajer Humas PT ...
Pemudik membanjiri pusat oleh-oleh tiwul dan gatot di Jalan Wonosari-Baron Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memborong makanan khas wilayah ini. Meskipun ...
Sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta mengalami peningkatkan jumlah kunjungan selama libur Lebaran.Salah satunya adalah pusat perbelanjaan yang berada di Jakarta Selatan, Mall ...
Pemimpin Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal KH Nuril Arifin Husein mengajak umat Muslim untuk menyebarkan perdamaian dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri."Kita ...