'Masjid versus Pasar' dalam masa pandemi COVID-19

COVID-19 Task Force chief performs Eid prayers at BNPB Building
Sejumlah warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di tepi pantai di Kelurahan Lere, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (29/4/2020). Saat bulan Ramadhan, kawasan tepi Pantai Teluk Palu tersebut ramai dikunjungi warga yang datang untuk ngabuburit sambil menikmati suasana matahari tenggelam. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/foc.
Denpasar (ANTARA) - Ramadhan merupakan bulan mulia yang ditandai dengan serangkaian ibadah, di antaranya shalat Tarawih yang dilaksanakan secara berjamaah di surau/mushalla atau masjid, namun musibah wabah COVID-19 yang datang sebelum Ramadhan hingga saat ini, akhirnya memaksa sebagian surau/mushalla atau masjid tutup.

Fakta itu mengundang nada nyinyir dengan logika benturan antara masjid dengan pasar.

"Kelua rumah berani. Ke pasar berani. Ke ATM berani. Ke warung berani. Ke ruang publik berani. Giliran ke masjid takut Corona?" atau "Tidak berjamaah ke masjid, tapi masih keluar buat bekerja, apa waras?!".

Logika benturan itu pun diunggah ke media sosial hingga memapar masyarakat awam.

Belakangan, logika benturan yang disuarakan lewat media sosial itu cukup marak, sejak kelompok HTI yang sudah dilarang pemerintah itu, memainkan logika serupa untuk mencekoki generasi muda, bahkan kelompok itu pernah membenturkan Islam versus Pancasila.

"Lebih baik mana Pancasila dengan Islam?" yang tentu dijawab "Islam" dan akhirnya dilanjutkan dengan 'doktrin' tentang pentingnya Islam daripada Pancasila.

Sepintas, logika benturan yang dilawan dengan logika gaprekan ala Gus Baha' (KH Ahmad Bahauddin Nursalim dari Rembang, Jawa Tengah) itu memang masuk akal (logis), padahal Islam itu tidak selevel dengan Pancasila, sehingga tidak logis bila dibenturkan, karena Islam adalah agama, sedangkan Pancasila adalah ideologi. Kalau mau dibandingkan, tentu harus selevel, bukan?!. Misalnya, Islam dengan Kristen, atau Pancasila dengan komunis. Itu baru satu level.

Baca juga: Reformasi pajak dan renungan Ramadhan

Barangkali, Gus Baha' yang merupakan salah satu ulama ahli tafsir Al Quran, dan putra Kiai Nur Salim (pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa tengah), serta salah satu murid dari ulama kharismatik, KH Maemun Zubair (almarhum) itu benar dengan mengampanyekan dakwah gaprekan yang tak serba dalil, karena masyarakat digital sekarang lebih mengutamakan logika daripada dalil. Banyak masyarakat yang terpapar dakwah serba logika, meski ada berjimbun dalil, namun dalil tetap saja dianggap hoaks (tidak logis).

"Sekarang, zaman butuh gaprekan, bukan dalil," ujar Gus Baha'. Baginya, dakwah model begitu mirip dakwah era Nabi Ibrahim. Ketika menyerukan keimanan dengan dalil dianggap hoaks, maka nabi yang penjuru para nabi itu pun melayani gaprekan itu, lalu sang nabi pun mengambil kapak untuk menghabisi berhala dan menyisakan satu berhala besar yang dikalungi kapak. Kontan saja, umatnya pun protes, siapa yang merusak "tuhan kami" dan Nabi Ibrahim pun menjawab tidak tahu. "Saya tidak membawa kapak", lalu nabi pun menjawab, lihat siapa yang membawa kapak?. Umat pun menyela, apa kamu sudah gila, mana mungkin berhala bisa merusak berhala lain, maka nabi pun menjawab; "Kenapa kamu menyembah kepada berhala yang menurutmu tidak mungkin atau tidak logis itu?".

Nah, Ramadhan yang kali ini datang dengan didahului wabah COVID-19 itu pun tak luput dari benturan logika antara Masjid versus Pasar seperti yang diungkapkan dalam nyinyiran di atas, padahal gaprekan untuk Masjid versus Pasar itu mirip dengan benturan Islam versus Pancasila yang tidak satu level dan tak pantas dipersandingkan.

Betapa tidak, Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah atau bahkan rumah Allah, sedangkan pasar adalah tempat yang paling dibenci oleh Allah atau rumah  setan. Nabi Muhammad SAW bersabda "Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid. Adapun tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar". (HR. Muslim).

Baca juga: Secercah hikmah di antara gonjang-ganjing puasa

Jadi, membandingkan masjid yang tempat ibadah dengan pasar yang tempat "setan" dalam kasus COVID-19 adalah tidak nyambung. Apalagi, masjid sebagai tempat ibadah itu memiliki alternatif, asalkan tempatnya suci, sedangkan pasar tidak ada tempat penggantinya. Nabi Muhammad bersabda "Seluruh bumi telah dijadikan tempat sujud (masjid) untukku, dan sarana bersuci". (HR. Bukhori dan Muslim).

Artinya, kalau mushalla atau masjid ditutup, maka alternatifnya masih ada yakni shalat di rumah, bahkan berjamaah di rumah juga bisa. Lain halnya dengan pasar, karena masyarakat tidak bisa menemukan kebutuhan sehari-hari di rumah, di kebun, atau di gunung. Jadi, pasar, toko, dan mall itu tidak mungkin ditutup semuanya, kecuali jam operasional yang bisa dibatasi. Toh, satu keluarga yang keluar ke pasar juga mungkin hanya satu orang, bukan semuanya.

Lebih dari itu, para ulama juga sudah mempertimbangkan bahwa menjaga nyawa juga kewajiban dalam agama, sehingga tindakan yang justru menyebabkan orang meninggal dunia itu sama halnya dengan membunuh orang itu. Bukankah tawakkal juga harus disertai ikhtiar?!. Jadi, Masjid versus Pasar itu bukanlah soal kompetisi "siapa paling berani", tapi mempertaruhkan nyawa manusia itu bukan hal yang dapat dibenarkan siapapun.

Bahkan, Nabi SAW juga memerintahkan shalat di rumah ketika ada hujan, juga Nabi pun pernah menjamak shalat, padahal tidak ada hujan dan tidak ada ketakutan. Semuanya dalam rangka mendahulukan kemaslahatan. Apakah kepada nabi juga perlu "nyinyir" dengan mengatakan "Sama hujan (COVID-19) kok takut?!". Jangan pakai logika yang tidak se-level begitulah...

Baca juga: Ramadhan momentum kurangi sampah makanan

Masjid di Jakarta kembali akan ditutup, ini imbauan MUI

Pewarta:
Editor: Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2020