“Peralihan dari berpuasa ke bersantap dapat menjadi tantangan bagi kesehatan kita. Setelah mengakhiri puasa, banyak orang segera kembali pada kebiasaan makan sebelumnya, bahkan secara berlebihan seperti makan terlalu banyak serta mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, gula, dan garam,” ujar Rimbawan dalam keterangan di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa setelah menjalani puasa selama sekitar satu bulan, sistem pencernaan belum tentu siap untuk langsung memproses makanan berat yang tinggi lemak dan gula. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu gangguan pencernaan seperti diare serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk obesitas, hipertensi, dan penyakit jantung.
Baca juga: Tips memasak jeroan untuk kreasi hidangan Idul Adha
Baca juga: Ide menu hidangan Lebaran dari berbagai negara
Menurut dia, penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan pola makan dan gaya hidup secara drastis dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti obesitas dan diabetes, terutama jika diiringi kebiasaan makan berlebihan selama masa libur Lebaran.
Untuk itu, masyarakat disarankan mengubah pola makan secara bertahap setelah Ramadan dengan tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang terdiri dari sayur, buah, karbohidrat, lemak sehat, dan protein. Asupan protein dinilai penting untuk membantu memperbaiki jaringan tubuh, mengatur nafsu makan, serta menjaga kesehatan otot.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan tetap aktif secara fisik, misalnya dengan berjalan kaki atau melakukan olahraga ringan, serta mengendalikan porsi makan dan berhenti ketika sudah merasa cukup kenyang.
Menjaga hidrasi tubuh dengan minum air yang cukup, tidur yang cukup, serta mengelola stres juga dinilai penting untuk menjaga kesehatan selama masa Lebaran. Nutrisi seperti asam lemak omega-3, vitamin D, antioksidan, serta protein yang mengandung asam amino triptofan juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan saat Lebaran adalah sulitnya menolak hidangan yang disajikan oleh kerabat yang umumnya tinggi lemak dan gula. Karena itu, masyarakat dapat menyampaikan secara sopan bahwa mereka sedang menjaga kesehatan atau memilih buah apabila tersedia.
“Pertahankan gaya hidup sehat dan nikmati Lebaran secara seimbang untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Gaya hidup sehat juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup serta membuat kita lebih produktif,” kata Rimbawan
Baca juga: Agar terhindar dari hipertensi hingga kolesterol saat lebaran
Baca juga: Makanan Lebaran paling populer di Indonesia, apa saja yang dinantikan?
Baca juga: Selain ketupat, ini makanan khas Lebaran di berbagai daerah Indonesia
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026