“Mudik bukan sekadar pulang kampung. Ini adalah momentum strategis untuk memupuk persatuan dan toleransi, terutama ketika para perantau bertemu kembali dengan keberagaman di daerah asal,”Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan mudik Lebaran 2026 merupakan momentum tepat untuk melestarikan sekaligus memupuk nilai-nilai persatuan dan toleransi di tengah masyarakat.
“Mudik bukan sekadar pulang kampung. Ini adalah momentum strategis untuk memupuk persatuan dan toleransi, terutama ketika para perantau bertemu kembali dengan keberagaman di daerah asal,” kata dia dalam keterangan diterima di Jakarta, Selasa.
Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret 2028 dengan 21,97 juta pergerakan pemudik dalam sehari. Diperkirakan 76,24 juta orang menggunakan mobil pribadi dengan 50,63 juta di antaranya melintasi jalan tol, berdasarkan data Kementerian Perhubungan.
Lestari mengingatkan para pemudik untuk menjadikan perjalanan ke kampung halaman sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
“Di jalan raya, kita bertemu dengan sesama pemudik dari berbagai latar belakang. Di kampung halaman, kita kembali menyatu dengan akar budaya. Toleransi dan persatuan harus dipraktikkan, bukan sekadar wacana,” tuturnya.
Menurut dia, semangat kebersamaan dan toleransi sangat dibutuhkan di tengah tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini. Bagi dia, kedua spirit itu dapat memperkuat ikatan sosial setiap anak bangsa.
Dia berharap generasi penerus dapat secara konsisten mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
“Nilai-nilai kebangsaan harus mampu dimanfaatkan sebagai landasan bertindak untuk menjawab berbagai tantangan dalam mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik di masa depan,” tuturnya.
Baca juga: Lestari dorong peningkatan keterampilan guru untuk pendidikan inklusif
Baca juga: Pimpinan MPR dorong percepatan pengesahan RUU MHA jadi undang-undang
Baca juga: Wakil Ketua MPR: RUU PPRT langkah penting beri kepastian hukum PRT
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026