Di sepanjang jalur tersebut, tim menemukan pos terpadu Polres Bandung yang tampil beda. Pos ini tidak hanya berfungsi sebagai titik pengamanan, tetapi juga menghadirkan panggung kesenian budaya
Cilacap (ANTARA) - Terkadang terpikirkan bahwa perjalanan mudik itu harus cepat sampai tujuan. Perjalanan dari Bandung menuju Tasikmalaya justru memberikan pengalaman yang berbeda. Jalur selatan Jawa Barat ini sudah lama dikenal sebagai rute mudik yang akrab bagi banyak orang. Di jalur ini, perjalanan terasa sebagai rangkaian peristiwa, dari keramaian kota hingga jalan nasional yang masih relatif lengang.

Tim ANTARA memulai perjalanan dari Bandung pada pukul 10.00 WIB. Sebelum benar-benar meninggalkan kota, langkah pertama justru diarahkan ke salah satu titik paling hidup menjelang Lebaran, yakni Masjid Raya Bandung.

Kawasan tersebut terlihat ramai sejak siang. Masyarakat datang silih berganti, sebagian beristirahat di selasar masjid, sebagian lain menemani anak bermain di sekitar area. Di sekelilingnya, arus manusia terus bergerak menuju pusat perbelanjaan seperti King’s Shopping Center dan Parahyangan Plaza.

Namun suasana itu terasa sedikit berbeda. Area Alun-Alun Bandung yang biasanya menjadi titik berkumpul justru ditutup dalam beberapa hari terakhir. Seorang pedagang, Dewi, mengatakan kondisi tersebut membuat keramaian tidak semaksimal biasanya.

“Kalau alun-alun dibuka, biasanya lebih ramai lagi,” ujarnya.

Dari pusat kota, perjalanan berlanjut dengan satu agenda yang hampir selalu muncul dalam liputan mudik, berburu oleh-oleh. Pilihan jatuh pada Batagor Yunus di Jalan Kopo, yang telah berdiri sejak 1972 dan tidak pernah berpindah lokasi.

Menjelang Lebaran, tempat ini dipadati pembeli yang ingin membawa pulang makanan khas Bandung. Harga batagor yang mulai dari Rp6.000 per biji membuatnya tetap terjangkau di tengah lonjakan kebutuhan jelang hari raya.

Setelah itu, sebelum meninggalkan Bandung, tim juga mengisi bahan bakar kendaraan dengan nominal sekitar Rp250.000 untuk memastikan perjalanan menuju Tasikmalaya dapat ditempuh tanpa perlu sering berhenti.

Jalur Nagreg dan ruang singgah pemudik

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026