Masjid Raya Maninjau terletak sekitar 700 meter dari sungai yang kini telah dipenuhi bebatuan berukuran besar akibat banjir bandang. Kendati demikian, pelaksanaan salat Id pada pagi hari berlangsung khidmat dengan diikuti ratusan jemaah dari berbagai jorong.
Pengurus Masjid Raya Maninjau Aris Munandar menyampaikan bahwa pelaksanaan salat Id utamanya dilakukan di lapangan SMP Negeri 1 Tanjung Raya. Namun, dikarenakan sehari sebelumnya turun hujan deras, lokasi yang berjarak sekitar 100 meter dari sungai itu menjadi berbatu dan berpasir.
"Lapangan sekarang dalam keadaan berbatu dan berpasir. Akhirnya, ketua koordinator daripada Hari Besar Islam Kanagarian Maninjau memutuskan pelaksanaan salat Idul Fitri dipusatkan di masjid," kata Aris.
Untuk menampung jumlah jemaah, pengurus membuka lantai dua masjid untuk perempuan dan menyediakan karpet di halaman masjid. Aris pun memperkirakan jumlah jemaah salat hari ini berkisar 500 warga.
Baca juga: PDI Perjuangan: Idul Fitri momen saling memaafkan jaga persaudaraan
Jumlah tersebut disebutnya turun dibandingkan dengan pelaksanaan salat di lapangan. Selain karena faktor pemulihan pasca-bencana, penurunan itu disebabkan waktu pelaksanaan salat Idul Fitri terbagi menjadi dua hari, Jumat (20/3) dan Sabtu.
"Sebagai pendukung untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, dalam zakat fitrah itu juga difokuskan bagi janda-janda yang terkena dampak daripada bencana," ujarnya.
Di sisi lain, kondisi di sekitar lapangan tempat biasanya salat Id dilakukan dan bantaran sungai tampak rusak parah. Tumpukan material batu berukuran besar di aliran sungai juga belum dibersihkan, menandakan proses pemulihan yang belum sepenuhnya berjalan.
Tepat di seberang sungai, terdapat rumah yang rusak parah, dinding yang jebol, atap yang hilang, dan isi rumah yang kini dipenuhi oleh bebatuan berbagai ukuran. Kondisi serupa juga terjadi di belasan rumah yang terletak di sekitar sungai.
Berdasarkan data Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat, sebanyak dua unit di Nagari Maninjau hanyut dan hilang dan 115 unit terdampak kerusakan, dengan taksir kerugian total mencapai Rp44,8 miliar.
Baca juga: Menhut sebut konsisten kelola hutan jadi salah satu indikator takwa
Baca juga: "Jaga Jakarta" jadi pesan Pramono Anung di Idul Fitri 1447 H
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026