Mengantisipasi persoalan tol "rasa Pantura" hingga kenyamanan pemudik

Government sets beginning of fasting on May 6
Ruas Tol Trans-Sumatera. (ANTARA/M Razi Rahman)
Jakarta (ANTARA) - Tol "rasa Pantura" adalah istilah yang dilontarkan oleh pengamat sektor transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, terkait dengan kondisi ruas tol yang kerap digunakan pengemudi kendaraan untuk menepikan kendaraannya di tepi jalan tol.

Padahal, sesuai aturan yang berlaku, perilaku para pemudik yang istirahat di bahu jalan adalah menyalahi aturan fungsi bahu jalan tol.

Untuk itu, pihak terkait harus tegas untuk melarang penggunaan bahu jalan di ruas tol tersebut untuk beristirahat, sesuai aturan yang berlaku.

Djoko dalam sejumlah kesempatan lain juga telah mengingatkan bahwa pemerintah harus mempersiapkan fasilitas area istirahat di berbagai ruas tol sebaik mungkin dalam menghadapi periode mudik Lebaran.

Ada potensi belanja pemudik yang dapat dimanfaatkan daerah-daerah yang dilalui Tol Trans-Jawa, salah satunya dengan menyiapkan fasilitas area istirahat yang terletak di kota/kabupaten tersebut.

Potensi transaksi pemudik selama Lebaran 2019 diperkirakan sebesar Rp10,3 triliun untuk dibelanjakan di lokasi mudik dan Rp6 triliun untuk urusan transportasi. 

Djoko mengingatkan bahwa daerah yang dilalui jalan tol dapat menjadi area istirahat sehingga pemudik perlu merencanakan pilihan daerah yang hendak dijadikan tempat istirahat saat mudik nanti.

Badan usaha jalan tol juga mesti aktif mengedukasi masyarakat dan pemudik untuk beristirahat di luar jalan tol atau di daerah yang dilalui jalan tol.

Selain itu, pihak operator jalan tol juga harus menyiapkan sistem yang membuat pemudik tak perlu membayar saat keluar-masuk di salah satu pintu Tol Trans-Jawa untuk istirahat di daerah tersebut.

Hal tersebut dinilai penting untuk mendorong pemudik memanfaatkan daerah yang dilalui jalan tol sebagai tempat istirahat dan menghindari macet di dekat tempat istirahat.

Perhatian isu keselamatan

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali menekankan bahwa isu keselamatan perlu mendapat perhatian lebih dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran 2019.

Kemenhub telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta dengan pengelola jalan tol, dalam rangka mengindentifikasi jalur-jalur rawan dan berbahaya agar dibuat rambu dan rencana teknis untuk penurunan kecepatan dalam berkendara.

Kemenhub sangat memperhatikan aspek keselamatan pemudik pengguna sepeda motor karena penggunaan sepeda motor sebagai angkutan mudik dinilai menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang banyak terjadi saat angkutan Lebaran.

“Mudik dengan sepeda motor dengan kecepatan 60 kilometer per jam itu melelahkan. Oleh karenanya, kami mengimbau intensif agar para pemudik pesepeda motor mengikuti program mudik gratis yang dikombinasikan dengan bus, kereta api, dan angkutan laut," kata Budi.

Ia juga mengimbau perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta untuk membuat program mudik gratis sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk menambah jumlah kuota bagi para pemudik sepeda motor.

Menghadapi arus mudik dan arus balik pada Lebaran 2019 di sepanjang ruas tol Jakarta-Surabaya, Kementerian Perhubungan juga tengah menyiapkan konsep ganjil-genap dan satu arah saat periode lebaran tersebut.

Hal tersebut karena dengan jalan tol yang telah tersambung dari Jakarta hingga Surabaya diyakini akan menarik minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi, sehingga penting adanya manajemen lalu lintas yang baik dan tepat.

Apalagi, Menhub juga mengingatkan bahwa Presiden Joko Widodo berpesan agar mudik tahun ini dapat berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Budi menjelaskan konsep tersebut disiapkan tidak lain tujuannya adalah agar mudik yang dijalani oleh masyarakat bisa nyaman dan lancar.

Dia menambahkan sudah ada kebijakan seperti pemindahan gerbang tol Cikarang Utama, tetapi dengan ekspektasi masyarakat yang tinggi untuk mencoba jalan tol, perlu diantisipasi langkah-langkah lain seperti penerapan ganjil-genap.

Hasil survei Angkutan Lebaran Tahun 2019 Badan Litbang Perhubungan menyebutkan bahwa total jumlah pemudik dari Jabodetabek sebanyak 14,9 juta, dengan tiga Provinsi tujuan mudik terbesar yaitu ke Jawa Tengah sebanyak 5,6 juta lebih pemudik atau 37,68 persen dari total pemudik Jabodetabek, Jawa Barat 3,7 juta lebih (24,89 persen), dan Jawa Timur 1,7 juta 11,14 (persen).

Moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9 persen), bus ekonomi 2,4 juta (16,1 persen) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9 persen).

Pemudik yang memilih memakai bus diperkirakan yang tertinggi, yakti 4,5 juta orang (30 persen), mobil pribadi 4,3 juta orang (28,9 persen), KA 2,5 juta orang (16,7 persen), pesawat udara 1,4 juta orang (9,5 persen), sepeda motor 942 ribu orang (6,3 persen).

Trans Jawa & Sumatera siap

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, ruas tol Trans Jawa dan Trans Sumatera siap digunakan untuk arus mudik 2019, di mana mayoritas pemudik masih menggunakan moda jalan raya sebagai pilihan.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan Kementerian PUPR berupaya seoptimal mungkin, agar mudik Lebaran tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dari sisi keamanan, keselamatan, dan kenyamanan.

Berdasarkan data PUPR, di Pulau Jawa, ruas jalan nasional yang siap digunakan sepanjang 4.407 km yang terbagi Lintas Utara Jawa 1.341 km kondisinya mantap 97 persen, Lintas Tengah Jawa 1.197 km kondisinya mantap 93 persen, Lintas Selatan Jawa 888 km kondisinya 98 persen mantap, dan Pantai Selatan Jawa 981 km dari 1.405 km kondisinya mantap 83 persen.

"Kementerian PUPR dalam beberapa tahun telah meningkatkan kualitas jalan pantai Selatan Jawa untuk mendukung destinasi wisata pantai selatan. Dengan kondisi jalan yang baik dan pemandangan indah, jalur ini bisa menjadi pilihan pemudik," katanya.

Pada tahun ini, Jalan Tol Trans Jawa dilaporkan sepanjang 965 kilometer siap digunakan ditambah ruas tol fungsional yaitu Tol Pandaan-Malang seksi 1 - 3 (31 kilometer) yang menjadi sirip Jalan Tol Trans Jawa.

Sedangkan untuk kelancaran dan kenyamanan arus mudik, seluruh pekerjaan perbaikan dan pembangunan jalan baik tol maupun non tol akan dihentikan pada H-10 Lebaran hingga H+10 Lebaran.

Sementara untuk Tempat Istirahat (TI) dan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) di Jalan Tol Trans Jawa adalah sebanyak 71 unit rest area (55 rest area operasi dan 16 rest area konstruksi) yang ada di setiap jarak 20 km.

Terkait Tol Trans Sumatera, data Kementerian PUPR menyatakan kondisi ruas jalan nasional yang siap digunakan sepanjang 7.918 km terdiri dari Jalan Lintas Barat 2.563 km kondisi mantap 97 persen, Jalan Lintas Timur 3.017 km kondisi mantap 93 persen, dan Jalan Lintas Tengah 2.338 km kondisi mantap 94 persen.

Untuk Jalan Tol Trans Sumatera yang siap digunakan untuk Mudik Lebaran 2019 sepanjang 503 km terdiri dari Tol Operasional sepanjang 278 km yakni Tol Bakaheuni-Terbanggi Besar (140,9 km), Palembang-Indralaya (21,93 km), Medan-Binjai Seksi 2 & 3 (10,46 km), Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (62,11 km) dan Belawan-Medan-Tanjung Morawa (42,7 km).

Kementerian PUPR berencana akan membuka tol Fungsional sepanjang 225 km, yaitu: Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang 189 km, Kayuagung-Palembang-Betung 33 km, dan Medan-Binjai Seksi 1 2,8 km. Pada Jalan Tol Trans Sumatera terdapat 1 Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) di Ruas Bakauheni-Terbanggi Besar KM 20+700.

Pantau rutin

Kementerian PUPR memantau secara rutin sepanjang Ramadhan ini, kondisi berbagai ruas tol yang akan digunakan baik untuk arus mudik maupun arus balik Lebaran tahun 2019/1440 Hijriah ini.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit mengatakan, menjelang arus mudik Lebaran 2019, terus dilakukan pemantauan secara rutin jalan tol seperti ruas Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung hingga H-10 perayaan Idul Fitri 1440 H.

"Kami terus lihat perkembangannya, guna memastikan kesiapan jalan tol ini dapat dilalui secara fungsional," kata Danang.

Danang Parikesit mengimbau pemudik untuk memperhatikan kecepatan kendaraan karena pada ruas tol fungsional, pemudik juga harus menyiapkan bahan bakar dan kondisi mesin dalam keadaan baik.

Selain kesiapan jalan, Kementerian PUPR juga menyiagakan 10 Mobile Toilet Unit (MTU), 11 unit Bis Toilet, 19 unit mobil tinja, dan 42 unit Mobil Tangki Air di lokasi rest area di jalan tol Trans Jawa.

Disiagakan juga tim tanggap bencana dalam rangka mengantisipasi keadaan darurat pada titik-titik rawan bencana. Kementerian PUPR akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Korlantas, BMKG, dan kementerian/lembaga lainnya dalam penyelenggaraan mudik, termasuk jadwal buka-tutup tol fungsional.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan juga tengah menyiapkan konsep ganjil-genap dan satu arah saat arus mudik dan balik Lebaran 2019 di sepanjang Tol Jakarta-Surabaya untuk memperlancar Angkutan Lebaran Tahun 2019.

Sedangkan di sejumlah titik seperti pengerjaan beberapa proyek infrastruktur di Tol Cikampek akan berhenti sementara pada tujuh hari menjelang dan tujuh hari sesudah Idul Fitri 1440 Hijriah atau Lebaran 2019.

Ada sejumlah proyek infrastruktur skala besar di Jalan Tol Jakarta - Cikampek seperti proyek pembangunan Kereta Api Cepat Jakarta - Bandung, Light Rail Transit (LRT), dan Tol Layang (Elevated).

Optimalkan jaringan

Tidak hanya di bidang infrastruktur, dalam sektor telekomunikasi juga berbagai pihak telah mengantisipasi terkait Lebaran, seperti operator telekomunikasi PT Telkomsel yang mengoptimalkan jaringan di sejumlah jalan tol yang merupakan jalur utama yang selalu padat saat mudik Lebaran tahun ini.

Dirut PT Telkomsel Ririek Adriansyah saat paparan layanan selama Ramadhan dan Idul Fitri (RAFI) 2019 pada acara Temu Media di Seminyak, Bali, Selasa (30/4), mengungkapkan, di sepanjang jalan utama dan jalan tol Trans-Sumatera kekuatan sinyal Telkomsel mencapai 90,34 persen dengan success call mencapai 98,18 persen.

Kemudian di jalan utama dan jalan tol Trans-Jawa kekuatan sinyalTelkomsel mencapai 98,39 persen dengan success call mencapai 99,39 persen. Sementara di jalur kereta api Trans-Jawa kekuatan sinyal Telkomsel mencapai 97,01 persen dengan success call mencapai 98,93 persen.

Untuk cakupan jaringan jalur utama tol Trans-Sumatera, tol Trans-Jawa dan kereta api Trans-Jawa sudah dicakup sinyal Telkomsel secara terus-menerus 100 persen.

Untuk memastikan kenyamanan berkomunikasi pelanggan, lanjut Ririek, Telkomsel telah menggelar drive test rutin di berbagai titik dengan kepadatan trafik komunikasi tertinggi dengan total jarak tempuh lebih dari 12.000 kilometer.

Ada pun parameter pengukuran yang digunakan adalah kekuatan daya pancar dan daya terima handset (coverage), tingkat kesuksesan akses jaringan, tingkat kontinuitas panggilan, lamanya waktu pembangunan panggilan, kualitas suara dan kecepatan akses data.

“Secara umum drive test yang dilakukan memberikan hasil yang baik,” ujar Ririek.

Kenyamanan pemudik juga diperhatikan seperti adanya penambahan SPBU seperti di jalur tol Surabaya-Ngawi, yang diapresiasi oleh sejumlah pihak.

Pendiri sekaligus Penasehat Fortuner Owners Club Indonesia (Forci) Wisnu Sambhoro, menyatakan, keberadaan delapan SPBU Pertamina tambahan di jalur tersebut akan memanjakan masyarakat yang hendak merayakan Idul Fitri bersama keluarga di kampung halaman.

Menurut dia, dengan adanya stasiun pengisian BBM di sepanjang jalur tol tersebut, pemudik tidak perlu takut kehabisan BBM, apalagi, kondisi mudik memang rawan kemacetan, termasuk di jalan tol.

Pengoperasian delapan SPBU di jalur tol Surabaya-Ngawi itu sendiri, menurut Wisnu, akan membuat pelaksanaan mudik kali ini menjadi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Apalagi, lanjutnya, dibarengi dengan upaya instansi terkait untuk mengantisipasi melonjaknya volume kendaraan.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengakui bahwa antisipasi pemerintah yang dilakukan terkait dengan kondisi tol mudik Lebaran dinilai cukup baik.

Diharapkan agar antisipasi tersebut juga benar-benar bermanfaat dalam rangka mewujudkan periode mudik Lebaran yang aman, nyaman, dan "zero accident".

 

H-7 Lebaran, Tol Kapal Betung mulai difungsikan

Pewarta:
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2019