TPID DIY gagal memantau distributor bawang karena pedagangnya kabur

Government sets beginning of fasting on May 6
TPID DIY memantau produksi cabai di petani pesisir, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. (Foto ANTARA/Sutarmi)
Kulon Progo (ANTARA) - Tim Pengendali Inflasi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta gagal memantau distributor bawang di Pasar Bendungan Wates karena pedagangnya kabur.

"Di Pasar Bendugan pemantauan pada distributor bawang gagal dilakukan karena pedagang besar tersebut sudah pergi," kata Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti di Kulon Progo, Kamis.

Ia mengatakan TPID DIY sedang melakukan pemantauan harga dan ketersediaan stok bahan pokok strategis di distributor menjelang Hari Raya Idul Fitri di seluruh wilayah kabupaten/kota di DIY.

Hari ini, TPID melakukan pemantauan di Pasar Bendugan dan Kelompok Tani Gisik Pranaji Desa Bugel, Kecamatan Panjatan.

"Di Kulon Progo, kami memantau stok dan harga cabai dan bawang, namun untuk bawang gagal dilakukan," katanya.

Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan dari pemantauan, petugas mendapat informasi terkait adanya lelang cabai, kebetulan masa taman pertama dan panen puncaknya akhir Mei dan awal Juni, panen cabai di satu tempat lelang bisa mencapai 2 ton. Sementara stok Hari Raya masih tercukupi dan harga di tingkat distributor masih stabil.

"Dari hasil pemantauan dilakukan di tingkat distributor, saat ini harga cabai tidak terlalu tinggi sekitar Rp13 ribu per kg dan di tingkat distributor malah saat lebaran harga cabai sedikit turun,” ungkapnya.

Ia mengimbaua kepada pedagang dan masyarakat menjelang lebaran supaya belanja dengan bijak jangan berlebihan, secukupnya saja sesuai kebutuhan.

'Untuk pedagang penuhilah atau utamakan dulu kebutuhan lokal, untuk menjaga kesetabilan barang dan harga," imbaunya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Desa Bugel, Panjatan, Sukarman mengatakan bahwa saat ini ada 23 kelompok tani dengan produksi 12 ton per hektarenya. Untuk tempat lelangnya saat ini 15 tempat yang bertahan dari 25 tempat karena digusur sejak adanya bandara. Hal ini juga menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas cabai, ditambah petani lebih memilih menanam tanaman lainnya juga.

Sukarman juga menambahkah bahwa rata-rata cabai didistribusikan di luar DIY seperti Jakarta. Proses lelang sendiri dilakukan dengan mengumpulkan petani lalu menemukan harga tertintinggi untuk di lelang.

"Tiap kelompok tani bisa memanen 25 ton cabai keriting. Puncak panennya ketika menjelang Hari Raya," katanya.

Baca juga: Masyarakat DIY diimbau tidak borong bahan pokok

Baca juga: DIY berupaya menjaga pasokan kebutuhan pokok lancar

Harga bahan pokok di kota Jayapura masih wajar

Pewarta:
Editor: Budi Suyanto
Copyright © ANTARA 2019