Ketersediaan pangan di Jateng aman jelang lebaran

COVID-19 Task Force chief performs Eid prayers at BNPB Building
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbincang dengan pedagang beras di salah satu pasar tradisional beberapa waktu lalu. (ANTARA/Wisnu Adhi)
Semarang (ANTARA) - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Agus Wariyanto menyatakan bahwa ketersediaan berbagai bahan pangan di Jateng aman menjelang Idul Fitri 1440 Hijriah.

"Menjelang Lebaran, ketersediaan bahan pangan di Jateng aman, namun kami tetap melakukan pengawasan agar tidak terjadi lonjakan harga yang tinggi," katanya saat membuka Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah 2019 di Semarang, Senin.

Ia menjelaskan bahwa sebagai pilar penyangga pangan nasional, Provinsi Jateng memproduksi minimal 16 persen beras, sedangkan di bidang peternakan per tahun menghasilkan 1,7 juta ekor sapi potong yang 70 ribu ekor di antaranya didistribusikan untuk pasar di Jabodetabek.

Selain itu, Kabupaten Kendal yang menjadi pusat produksi telur di Jateng mampu memproduksi hampir 25 persen dan sayur mayur serta buah-buahan di Provinsi Jateng juga surplus, meskipun komoditas bawang putih dan kedelai yang memang masih harus ditingkatkan.

"Dengan demikian ketersediaan dan ketahanan pangan di Jateng aman menjelang Lebaran mendatang," ujarnya.

Disinggung mengenai stabilitas harga berbagai kebutuhan pokok, Agus tak menampik jika menjelang Lebaran cenderung terjadi peningkatan secara psikologis antara 5-10 persen, namun kenaikan itu dianggap wajar, dan harga diprediksi relatif stabil hingga kurun waktu satu minggu setelah Lebaran.

Kendati demikian untuk mencegah lonjakan harga, Dinas Ketahanan Pangan Jateng tetap melakukan upaya untuk menjaga stabilitas harga, sekaligus mengendalikan inflasi yang salah satunya adalah dengan program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) pada komoditas beras.

"Kami juga mempunyai hampir 800 toko tani sehingga pada saat pengembangan itu masyarakat bisa mengakses pangan dengan beras segar. Berasnya juga cukup lumayan itu, sekarang harganya sekitar 8.800 per kilogram, sementara harga di luar sudah 9.000 per kilogram," katanya.

Menurut dia, ketahanan pangan tidak hanya terkait dengan masalah ketersediaan bahan pangan yang tercukupi, melainkan juga aspek-aspek ketahanan pangan lainnya, seperti keamanan pangan yang menyangkut residu pestisida, pengelolaan bahan tambahan makanan dengan baik agar tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan masyarakat.

"Sehingga aspek ketahanan pangan itu ada kaitannya juga dengan kesehatan, ketahanan pangan kaitannya dengan lingkungan, kemudian ketahanan pangan ini juga diharapkan juga untuk meningkatkan pendapatan petani," ujarnya.

Pada rakor kali ini diserahkan Sertifikat Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) kepada kelompok tani "Konco Tani" dari Kabupaten Karanganyar dengan komoditas beras dengan merek Kaki Lawu, dan PT Berill Jaya Sejahtera dari Grobogan dengan komoditas beras merek Pondok Petani Beras Mentik Wangi.

Baca juga: Jawa Tengah ingin tolak impor pangan

Pemkab Keerom kirim 15 ton jagung kering ke Blitar

Pewarta:
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2019