BPPT harap masyarakat ikut serta atasi polusi udara

Government sets beginning of fasting on May 6
Sejumlah kendaraan melintas di jalan Tol Pondok Pinang-TMII dengan berlatar belakang gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta Selatan, Selasa (2/7/2019). Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan menerapkan modifikasi cuaca dengan cara membuat hujan buatan guna mengurangi polusi udara di Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengharapkan agar masyarakat bisa ikut serta dalam mengatasi polusi udara karena hal tersebut merupakan tanggung jawab bersama.

“Langkah jangka panjang tentu sangat dibutuhkan, langka jangka pendek jika polusi sudah terlalu pekat juga dibutuhkan. Saya kira semua harus bisa saling bersinergi,” Kepala BBTMC, Tri Handoko Seto, saat dihubungi oleh ANTARA, di Jakarta, Senin.

Ia bilang, hujan buatan yang sedang dirancang BPPT adalah salah satu langkah kecil dalam mengatasi polusi udara. Namun tetap diperlukan langkah selanjutnya agar masalah tersebut tidak berkelanjutan.

“Saat ini kita sedang berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dalam menyelesaikan masalah tersebut,” katanya.

Juga baca: BPPT jelaskan perbedaan hujan buatan untuk karhutla dan polusi udara
Juga baca: Pengurangan polusi udara Jakarta makin sulit saat curah hujan rendah
Juga baca: Pengamat: Anies terlambat bila terapkan uji emisi tahun 2020

Menurut dia, hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk berkontribusi mengurangi polusi udara dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi karena menggunakan bahan bakar yang menyebabkan polusi.

“Ya kalau pakai transportasi umum kan bisa mengurangi penggunaan BBM fosil itu salah satu langkah yang berdampak dalam jangka panjang karena bisa terus mereduksi polusi,” ujarnya.

Selain itu, memperbanyak ruang terbuka hijau juga menjadi cara yang ampuh dalam memberikan efek positif berjangka panjang bagi udara di Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia.

“Namanya polusi itu kalau semakin banyak tanaman semakin bagus udaranya,” kata dia.

Menurut dia, banyaknya peristiwa kebakaran yang terjadi saat kemarau juga menjadi penyebab terjadi polusi udara sehingga masyarakat diharapkan untuk tidak melakukan aktivitas membakar hutan, lahan, atau apapun yang memicu adanya api yang besar.

“Kalau kita tidak menghentikan itu, kebakaran semakin parah dan kemudian polusi semakin tinggi. Kesehatan masyarakat juga terganggu,” katanya.

Pameran kendaraan listrik pertama di Indonesia

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2019