Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan solidaritas, bukan kecemasan harga. Ketika pemerintah hadir melalui pengawasan, pasar murah, dan program desa berdaya, pesan yang ingin disampaikan jelas bahwa negara tidak absen.
Mataram (ANTARA) - Menjelang Ramadhan, denyut pasar tradisional di berbagai daerah selalu berubah. Lorong-lorong yang biasanya lengang mendadak padat. Percakapan tentang harga beras, cabai, telur, dan daging terdengar lebih sering, seolah menjadi tema wajib menjelang bulan suci.

Ada kegembiraan menyambut waktu yang dinanti, tetapi juga kecemasan yang berulang setiap tahun, yakni apakah harga bahan pokok akan tetap bersahabat di tengah meningkatnya kebutuhan?

Gambaran itu juga terasa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pasar-pasar tradisional, aktivitas jual beli mulai meningkat. Permintaan merangkak naik, sementara perhatian publik tertuju pada satu hal yang sama: stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.

Bagi daerah yang sebagian masyarakatnya masih sangat bergantung pada pasar rakyat, gejolak kecil sekalipun dapat segera memengaruhi daya beli dan suasana batin menjelang Ramadhan.

Pemerintah daerah tampaknya belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Sejak Januari, pengawasan harga dan stok sudah dioptimalkan. Dinas Perdagangan Kota Mataram rutin memantau 19 pasar tradisional, dengan tiga pasar sebagai acuan harga yakni Kebon Roek, Pagesangan, dan Mandalika.

Hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar kebutuhan pokok masih stabil. Beras medium bertahan di kisaran Rp13.000 per kilogram dan beras premium sesuai harga eceran tertinggi Rp14.900 per kilogram.

Stok pun relatif aman. Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB mencatat cadangan beras di Bulog mencapai sekitar 154 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga enam sampai sepuluh bulan ke depan. Artinya, dari sisi ketersediaan, ruang kepanikan seharusnya tidak ada.

Namun, pasar bukan sekadar soal stok. Ia juga dipengaruhi musim, psikologi, dan distribusi. Cabai rawit menjadi contoh paling nyata. Pada akhir Januari, harganya melonjak dari kisaran Rp30.000–Rp35.000 per kilogram menjadi Rp65.000 per kilogram akibat cuaca ekstrem.

Hujan dan angin kencang mengganggu panen dan distribusi. Fluktuasi juga terjadi pada bawang merah dan cabai merah besar, meski tidak setajam cabai rawit.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting. Ketersediaan stok makro tidak selalu identik dengan kestabilan harga mikro. Di tingkat gudang, beras melimpah. Di tingkat pasar, satu komoditas hortikultura bisa melonjak tajam hanya dalam hitungan hari. Inilah celah yang kerap memicu persepsi kelangkaan dan mendorong belanja berlebihan.

Di sisi lain, inflasi Kota Mataram pada awal 2026 tercatat 3,69 persen secara tahunan, masih di bawah inflasi provinsi 3,86 persen. Kenaikan emas menjadi faktor utama, bukan bahan pokok. Ini memberi sinyal bahwa tekanan harga bapok belum sistemik. Tetapi Ramadhan selalu menjadi periode sensitif karena konsumsi rumah tangga meningkat signifikan.

Baca juga: Gubernur NTB berharap Ramadhan Fair bantu kebutuhan pokok warga

Copyright © ANTARA 2026