Yogyakarta (ANTARA) - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan puasa sebagai momentum perekat sosial di tengah potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

Haedar meminta agar umat Islam menyikapi perbedaan tersebut dengan cerdas dan "tasamuh".

"Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," kata Haedar dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa.

Menurut Haedar, jika umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal, kemungkinan besar akan terus terjadi perbedaan untuk penetapan hari-hari besar Islam.

Ia menegaskan bahwa perbedaan harus disikapi secara arif dan bijaksana.

Menurut dia, tujuan utama puasa adalah meningkatkan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif, sehingga umat Islam perlu memfokuskan diri pada substansi ibadah.

Baca juga: FKBI ajak konsumsi kebutuhan pokok secara wajar selama Ramadhan

Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap relasi sosial kemasyarakatan semakin baik, dengan menebarkan kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta.

Ia mengingatkan agar berbagai urusan tidak sampai mengganggu tujuan utama puasa untuk mencapai ketakwaan.

Haedar juga berpesan agar puasa Ramadhan dijalankan dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan, termasuk perbedaan awal Ramadhan.

"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas," ujar dia.

Ia menambahkan, puasa Ramadhan seharusnya menjadi sarana menjaga sekaligus memperbaiki akhlak pribadi dan publik sekaligus wahana perbaikan karakter agar umat Islam mampu naik kelas menjadi umat terbaik.

Baca juga: BI Kaltim siapkan uang kartal Rp2,18 triliun hadapi Ramadhan-Lebaran

Dalam konteks sosial, Haedar menekankan pentingnya puasa sebagai perekat kehidupan bermasyarakat.

Puasa, kata dia, melatih umat untuk menahan diri, termasuk ketika menghadapi ajakan konflik atau pertengkaran.

"Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita," katanya.

Setiap Muslim yang menjalankan puasa, menurut Haedar, semestinya mampu menempatkan diri sebagai agen perdamaian dan kebaikan di tengah masyarakat, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan sosial.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum mencapai kemajuan hidup, selaras dengan substansi takwa yang bermuara pada perbaikan martabat manusia di berbagai bidang kehidupan.

"Takwa itu juga puncaknya adalah perbaikan martabat hidup tertinggi, maka umat Islam harus menjadi umat yang maju dalam berbagai kehidupan, baik spiritual, moral, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek yang lain menuju peradaban utama," tutur Haedar.

Baca juga: 1.900 personel gabungan jaga Ramadhan di Jakarta
Baca juga: Sekjen PBB sebut Ramadhan momentum untuk bangun dunia yang damai

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026