Pemerintah dan pasar seharusnya bisa memprediksi dan merespons kenaikan harga ini karena sudah terjadi berulang kali
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga cabai rawit merah menjelang Ramadhan 1447 H merupakan inflasi musiman yang berulang dan dapat diantisipasi pemerintah.

Esther menyampaikan hal tersebut merespons pergerakan harga cabai rawit merah yang dalam sepekan terakhir masih berada di kisaran Rp80.000 per kilogram (kg) di sejumlah pasar tradisional, setelah sebelumnya sempat menembus Rp90.000–Rp100.000 per kg.

“Kenaikan harga cabai dan kebutuhan pangan sebenarnya merupakan 'seasonal inflation' yang biasanya terjadi saat Ramadhan dan Lebaran, ditambah pengaruh cuaca,” kata Esther kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan pola kenaikan harga komoditas hortikultura tersebut hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama ketika curah hujan tinggi yang menghambat panen dan aktivitas petik, sehingga pasokan ke pasar tidak optimal.

“Pemerintah dan pasar seharusnya bisa memprediksi dan merespons kenaikan harga ini karena sudah terjadi berulang kali,” ujarnya.

Menurut Esther, kebijakan pengendalian harga melalui penetapan harga batas bawah (floor price) maupun batas atas (ceiling price) berpotensi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan jaminan pasokan yang memadai di pasar.

“Kalau hanya mengeluarkan kebijakan floor price atau ceiling price, biasanya tidak terlalu digubris. Data historis menunjukkan hal itu justru berpotensi membuat barang menghilang dari pasar,” tuturnya.

Ia menilai langkah yang lebih efektif adalah memperkuat operasi pasar dengan menambah pasokan langsung ke pasar-pasar utama, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti Ramadhan dan Idul Fitri.

Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta pada Selasa (17/2), pasokan cabai rawit merah tercatat relatif tersedia, termasuk dari luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Selatan, dengan volume pasokan diperkirakan mencapai sekitar 20 ton per hari, meskipun harga di tingkat konsumen masih dipengaruhi ongkos distribusi yang berkisar Rp10.000 per kg.

Selain itu, Esther menekankan pentingnya pengembangan teknologi pascapanen untuk menjaga kualitas dan daya simpan cabai, sehingga pasokan tidak hanya bergantung pada musim panen.

“Teknologi pascapanen perlu digunakan agar cabai lebih awet dan pasokan tetap tersedia kapan pun,” ujar dia.

Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara yang mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui pengelolaan pascapanen.

Salah satunya di Belanda, di mana petani apel dapat menyimpan hasil panen lebih lama dengan teknologi pengawetan sehingga komoditas dapat dijual sepanjang tahun.

“Harganya tidak anjlok saat panen. Pada saat tidak musim panen, masyarakat juga masih bisa menemukan apel dengan harga standar di supermarket,” ucap Esther.

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) sebagai salah satu instrumen intervensi untuk membantu menekan harga cabai rawit merah di tingkat konsumen, terutama di wilayah yang mengalami tekanan pasokan dan distribusi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

FDP akan dilakukan pemerintah dengan menanggung sebagian biaya logistik komoditas pangan dari sentra produksi ke pasar konsumsi, guna menjaga pasokan dan menekan volatilitas harga di tingkat konsumen.

Baca juga: PIHPS: Harga cabai rawit merah Rp88.600/kg, telur ayam Rp32.200/kg

Baca juga: Bapanas sebut harga cabai di pasar induk Banten mulai turun

Baca juga: Bapanas: Cuaca dan tenaga petik jadi penyebab harga cabai rawit naik

Baca juga: INDEF tekankan pangan hingga logistik pacu ekonomi di momen Ramadhan

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026