Cilacap (ANTARA) -



Perjalanan mudik di jalur selatan kerap dipenuhi cerita yang tidak selalu berkaitan dengan kemacetan atau waktu tempuh. Di tengah perjalanan panjang menuju kampung halaman, sejumlah titik singgah justru menghadirkan pengalaman berbeda, salah satunya di kawasan Rest Area Talaga Sunda, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Di lokasi tersebut berdiri Masjid As-Shodiqin, sebuah bangunan yang langsung mencuri perhatian karena bentuknya yang menyerupai perahu. Dari kejauhan, struktur masjid tampak memanjang dengan garis-garis vertikal berwarna abu-abu dan putih yang memberi kesan modern di tengah lanskap terbuka.

Di bagian atas bangunan, berdiri elemen menyerupai layar perahu berbentuk segitiga tinggi dengan ornamen kaligrafi berlafal "Allah", dan berwarna emas yang menjadi penanda visual utama kawasan tersebut.

Keunikan bentuk ini membuat masjid mudah dikenali oleh pengendara yang melintas di jalur perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, sekaligus mengundang rasa penasaran untuk singgah.

Baca juga: "Azan pitu", seruan tujuh suara yang menembus zaman

Baca juga: Peneliti luar negeri tertarik arsitektur unik Masjid Lancip Amuntai

Ketika menjelang Lebaran, pengurus masjid, Yusep Sobana, mengatakan kawasan tersebut mulai ramai disinggahi pemudik sejak sekitar sepekan menjelang Lebaran.

“Mulai ramai itu kira-kira H-7. Banyak pemudik yang mampir ke sini untuk sholat dan istirahat,” kata Yusep ketika diwawancarai oleh ANTARA, Selasa.

Menurut dia, pemudik yang datang tidak hanya memanfaatkan masjid untuk beribadah, tetapi juga untuk beristirahat dan menikmati fasilitas yang tersedia.

“Yang datang ke sini ada yang mau sholat, ada juga yang istirahat atau makan. Di sini juga ada rumah makan Talaga Sunda,” ujarnya.

Masjid ini dibangun pada 2023 dengan konsep yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai bagian dari rest area dan kawasan wisata keluarga.

Konsep perahu, danau, dan pengalaman visual

Konsep yang diusung di kawasan ini tidak berhenti pada bentuk bangunan masjid. Di dalamnya, suasana ruang ibadah menghadirkan nuansa yang berbeda melalui sentuhan dekoratif yang cukup mencolok.

Area di dalam Masjid As-Shodiqin pada Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Dinding masjid dihiasi panel kaca berwarna dengan pola geometris berbentuk bintang yang memantulkan cahaya ke dalam ruangan. Sementara itu, area masuk didominasi material marmer dengan motif alami, dilengkapi pintu berukir beraksen emas serta lampu gantung yang memperkuat kesan artistik.

“Konsepnya memang dibuat unik seperti perahu supaya orang tertarik mampir ke sini,” kata Yusep.

Area selasar Masjid As-Shodiqin pada Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Di luar bangunan utama, kawasan ini dilengkapi danau buatan yang menjadi pusat aktivitas sekaligus daya tarik utama bagi pengunjung.

Pengunjung dapat berkeliling danau menggunakan perahu, sepeda air, dan kano. Hanya dengan tarif mulai dari Rp20 ribu untuk orang dewasa dan Rp10 ribu untuk anak-anak untuk menikmati wahana tersebut.

Baca juga: Ramadhan, Masjid berusia 136 tahun di Banten ramai didatangi wisatawan

Dari atas perahu, suasana kawasan terasa lebih terbuka. Air yang tenang memantulkan bangunan di sekitarnya, sementara pengunjung dapat melihat lebih dekat berbagai hewan yang ditempatkan di area tengah danau. Beberapa di antaranya adalah burung unta, rusa, merak, hingga domba yang menjadi bagian dari konsep wisata di kawasan tersebut.

Area wahana air di sekitar Masjid As-Shodiqin pada Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Tidak hanya itu, di salah satu sisi danau berdiri bangunan bergaya kastil dengan dinding bata merah, menara kecil, serta jendela-jendela tinggi yang memberikan nuansa berbeda dari bangunan di sekitarnya.

Dari sudut tertentu, bangunan tersebut terlihat memantul di permukaan air, menciptakan pemandangan yang cukup menarik bagi pengunjung yang melintas maupun yang sengaja berhenti. Namun, rumah tersebut tidak dibuka untuk umum, dikarenakan rumah tersebut adalah rumah milik pribadi si pemilik masjid.

Rumah berbentuk kastil terletak di sekitar Masjid As-Shodiqin pada Selasa (17/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Meski begitu, kastil tersebut masih bisa dinikmati karena perahu akan berjalan pelan ketika melewati kastil tersebut.

Kombinasi antara masjid, danau, hewan, serta bangunan tematik membuat kawasan ini terasa lebih dari sekadar rest area.

Ruang singgah yang memberi jeda perjalanan

Masjid As-Shodiqin dibuka selama 24 jam, sehingga pemudik dapat singgah kapan saja, baik untuk beribadah maupun beristirahat.

“Masjid ini buka 24 jam. Kalau ada yang mau istirahat juga bisa, biasanya ada petugas yang berjaga,” kata Yusep.

Area sekitar masjid juga ditata dengan ruang terbuka dan tanaman hias serta kolam ikan, memberikan suasana yang lebih tenang bagi pengunjung yang ingin beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Salah seorang pengunjung, Lina, warga Majenang, Jawa Tengah, mengaku datang bersama keluarganya untuk memanfaatkan waktu jeda perjalanan.

“Ini ajak anak-anak rekreasi, kebetulan ada keponakan dari Jakarta. Mereka lagi menunggu jadwal mudik berikutnya, jadi cari tempat yang menarik,” kata Lina.

Ia mengatakan telah beberapa kali berkunjung ke kawasan tersebut karena dinilai nyaman untuk beribadah sekaligus beristirahat.

“Kadang suka sholat duha juga di sini. Tempatnya enak buat menenangkan diri,” ujarnya.

Kepada ANTARA, ia mengatakan bahwa desain masjid yang tidak biasa menjadi salah satu alasan pengunjung tertarik untuk datang.

“Keren banget, unik. Karena unik itu jadi bikin orang tertarik datang ke sini,” katanya.

Ia juga menilai fasilitas di kawasan tersebut cukup bersih dan mendukung kebutuhan pemudik.

“Fasilitasnya bersih, terutama toiletnya. Nyaman juga buat istirahat,” ujarnya.

Bagi sebagian pemudik, perjalanan panjang sering kali membutuhkan jeda, untuk sekadar mengisi tenaga ataupun juga untuk menenangkan diri sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Di jalur yang panjang dan melelahkan, keberadaan tempat singgah seperti Masjid As-Shodiqin, menjadi titik jeda yang dibutuhkan pemudik sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Baca juga: Masjid apung, seni mengingat ibadah dari botol bekas

Baca juga: Wali Kota harap Ngarak Perahu Maulid dapat terus dilestarikan

Baca juga: Pekerja Indonesia padati Masjid Taipei saat libur Festival Perahu Naga

Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026