Jakarta (ANTARA) - Rina (24) duduk sendirian di salah satu kursi ruang tunggu keberangkatan Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, siang itu. Masih tersisa sekitar satu jam sebelum kereta yang akan membawanya ke  Purwokerto berangkat. Kesempatan itu dia manfaatkan untuk sekadar memeriksa ponsel dan terdiam menatap layar besar yang menunjukkan jadwal kereta.

Perempuan berambut sebahu itu merantau ke Jakarta sejak beberapa tahun terakhir dan selalu pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran menggunakan kereta api. Alasannya karena letak stasiun lebih dekat ke rumahnya ketimbang terminal atau bahkan bandara.

Selain itu, kereta memakan waktu relatif singkat untuk sampai di tujuan dan bebas macet. Sekitar empat jam waktu yang dia butuhkan sampai ke Purwokerto. Rina memprakirakan akan sampai sebelum waktu berbuka puasa.

Mengingat keberangkatannya di Stasiun Gambir, dia jelas memilih kelas eksekutif. Rupanya ini menjadi pilihan kedua, karena dia kehabisan tiket kelas ekonomi untuk tanggal keberangkatan yang dia inginkan. Dalam istilah dunia per-tiketa-n, Rina kalah war kali ini.

Bagi Rina, ketimbang gagal mudik, memilih kelas kereta lain menjadi pilihan utama. Dia merogoh kocek sekitar Rp390 ribu, lebih mahal sekitar Rp100 ribu dari kelas ekonomi.

Dari sisi fasilitas, dia bisa menikmati kursi lebih lebar dan empuk, dengan sandaran kaki dan jarak kaki lebih lega. Sementara pada kelas ekonomi, ada tipe kursi yang berhadapan dan lebih tegak, sehingga tak nyaman bagi sebagian orang.

Namun rasa tak nyaman yang cenderung dialami penumpang kelas ekonomi terpatahkan dengan hadirnya rangkaian kereta new generation (NG).

Kursi kereta ini tidak lagi tegak 90 derajat dan saling berhadapan, melainkan captain seat ergonomis yang dapat diatur kemiringannya (reclining) serta diputar mengikuti arah laju kereta (revolving).

Interiornya menyerupai kelas eksekutif dengan nuansa cerah, bagasi atas modern, pencahayaan lembut, serta aksen kayu elegan di area jendela.

 

Arsip foto - Bagian dalam kereta api (KA) Progo relasi Stasiun Pasar Senen-Lempuyangan. ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026