Sebagian khutbah Id di Jambi angkat tema satukan persaudaraan umat

COVID-19 Task Force chief performs Eid prayers at BNPB Building
Khutbah shalat Idul Fitri 1440 Hijriah di Masjid Al Muttahidin Provinsi Jambi. Momentum Idul Fitri jadikan momen menyatukan persaudaraan umat muslim. (Antara/Muhamad Hanapi)
Jambi (ANTARA) - Sebagian besar khutbah shalat Idul Fitri 1440 Hijriyah di Jambi mengangkat tema menjaga persatuan dan persaudaraan umat muslim.

Tema tersebut diangkat oleh khatib sejumlah masjid di Provinsi Jambi pada khutbah shalat Idul Fitri 1440 Hijriah. Diangkatnya tema tersebut melihat fenomena yang terjadi ditengah-tengah masyarakat saat ini. Dimana sesama umat beragama begitu mudah dipecah belah akibat termakan isu-isu bohong dan hoax yang disebar baik dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial.

Ary Nu’manu Chairi dalam khutbah yang disampaikannya di Masjid Al Muttahidin Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi , mengatakan jika ada perselisihan maupun perbedaan seperti beda pilihan ketika Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Presiden (Pilpres), ataupun beda pemikiran dalam hal beragama yang sifatnya Furu’iyyah dan lain sebagainya, maka harus dicari solusi yang terbaik dalam rangka mendamaikan keduanya.

Jangan sampai ada caci maki, hujatan, kedengkian, fitnah, adu domba bahkan jangan sampai ada darah yang mengalir atau pembunuhan. Sebab orang Islam itu bersaudara bahkan sesama warga negara Indonesia-pun juga bersaudara walaupun berbeda suku, ras, warna kulit maupun agama.

“Untuk dapat meraih persatuan persaudaraan dan perdamaian, dibutuhkan jiwa yang taqwa. Didunia ini buah dari taqwa akan menjadi hamba Allah yang menerima ketetapan Allah, selalu mengingat Allah, berjiwa baik dan berusaha memanusiakan manusia dengan kelembutan dan kasih sayang,” kata Ary Nu’manu Chairi dalam khutbah yang disampaikannya.

Sementara itu, ratusan warga yang menjalankan ibadah shalat Id di masjid itu tururt meneteskan air mata, maresapi fenomena yang berkembang di tengah masyarakat yang begitu mudah terprovokasi sehingga menyebabkan perpecahan antarsesama.

Selain itu, turut disampaikan betapa pentingya menjaga lisan. Mengingat perpecahan yang terjadi ditengah masyarakat disebabkan oleh adanya fitnah-fitnah yang dikeluarkan melalui lisan. Dan hari ini lisan tidak hanya dimaknai mulut manusia saja, akan tetapi bisa meluas menjadi informasi dalam media sosial, whatsApp, twitter, facebook, instagram dan media sosial lainnya.

“Jangan sampai kita membuat atau menyebarkan berita fitnah dan hoaks karena itu juga bagian dari kejahatan lisan,” kata Ary Nu’manu Chairi.

Kemacetan lalu lintas di jalur selatan hingga 20 kilometer

Pewarta:
Editor: Ridwan Chaidir
Copyright © ANTARA 2019