DPR katakan pemerintah harus menyediakan transportasi laut terjangkau

Government sets beginning of fasting on May 6
Anggota DPR, dari Daerah Pemilihan XI Madura, Achmad Baidowi. (ANTARA/Abdul Aziz)
Sumenep (ANTARA) - Anggota DPR dari Daerah Pemilihan XI Madura, Achmad Baidowi, meminta agar pemerintah bisa menyediakan transportasi laut yang terjangkau bagi masyarakat kepulauan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, guna menekan angka kecelakaan laut di wilayah itu.

"Pemerintah, baik pusat, provinsi dan kabupaten harus kompak bersinergi untuk bisa mewujudkan hal ini," katanya kepada ANTARA melalui sambungan telepon, Selasa Malam.

Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengemukakan hal ini, menanggapi kecelakaan laut di Sumenep, Senin (17/6), yang menyebabkan 17 orang meninggal dunia dan empat orang lainnya hilang.

Baidowi selanjutnya menuturkan, dia sering mengalami dan merasakan langsung, layanan transportasi laut dari daratan di Kabupaten Sumenep, menuju kepulauan.

Perjalanan laut ke pulau-pulau yang ada di Kabupaten Sumenep, menurut dia, dalam waktu tertentu memang ganas, karena sering terjadi ombak besar yang disertai angin kencang, disamping memang jadwal kapal yang tidak tentu.

Ia mencontohkan seperti dari Kalianget menuju Pulau Raas. Dalam seminggu di hari-hari biasa hanya ada ferry seminggu sekali dengan waktu tempuh 6 jam.

Transportasi lainnya berupa perahu motor sehari dua kali dari Pelabuhan Dungkek menuju Pelabuhan Ketupat Raas dengan waktu tempuh 4 jam dalam kondisi normal.

Jika mengejar jadwal, semisal karena ada kepentingan yang tidak bisa ditunda, sebenarnya bisa menyewa perahu dengan biaya jauh lebih mahal.

Akan tetapi, menggunakan kapal motor tantangannya lebih berat karena melewati jalur utara Pulau Sapudi yang langsung berhadapan dengan Laut Jawa, sehingga gelombangnya besar.

Belum lagi, sambung dia, jika kapal mengalami kelebihan muatan, seperti yang terjadi baru-baru ini hingga menyebabkan kapal tenggelam.

Maka, salah satu solusinya, pemerintah, baik pusat, provinsi dan kabupaten harus kompak bersinergi untuk menghadirkam transportasi laut yang aman, nyaman dan harga terjangkau.

"Dan kami sebagai wakil dari dapil Madura akan menyurati Menteri Perhubungan terkait masalah ini. Mohon doanya semoga lancar. Dan ini, baru ke pulau-pulau besarnya, belum lagi ke pulau-pulau kecil yang ada di Sumenep," katanya, menjelaskan.

Transportasi laut antarpulau di Kabupaten Sumenep yang mengalami kecelakaan terakhir terjadi pada 17 Juni 2019 yakni menimpa Kapal Motor Arim Jaya di sekitar Perairan Pulau Giliyang, Sumenep.

Baca juga: Kesyahbandaran: satu korban kapal Arim Jaya dalam pencarian

Baca juga: 4 korban Kapal Arim Jaya masih belum ditemukan

Baca juga: 15 korban tewas KM Arim Jaya belum teridentifikasi

KM Arim Jaya diketahui berangkat dari Pulau Guwa Guwa, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, pada Senin sekitar pukul 07.00 WIB pagi tujuan Pelabuhan Kalianget, Sumenep.

Saat berada di sekitar perairan Pulau Giliyang, kapal terhantam ombak besar yang disertai angin kencang sebanyak dua kali hingga akhirnya karam.

Dari sebanyak 60 orang yang menjadi penumpang kala itu, 39 orang selamat, 17 orang meninggal dunia dan 4 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Data tentang jumlah penumpang ini sempat simpang siur, karena kapal itu ternyata tanpa manifes. Data awal yang disampaikan petugas tentang jumlah penumpang sebanyak 40 orang, lalu bertambah menjadi 50 orang, dan terakhir sebanyak 60 orang.
Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
Copyright © ANTARA 2019