ANTARA - Selat Hormuz yang menjadi jalur pelayaran vital di regional Timur Tengah, ditutup sepihak oleh Iran. Hal ini sebagai bentuk kekecewaan atas agresi Amerika Serikat dan Israel, serta ketidakmampuan negara-negara kawasan dalam meredam konflik tersebut.

Jalur maritim dengan lebar hanya sekitar 50 hingga 30 kilometer di titik tersempitnya ini, menjadi satu-satunya titik lalu lintas untuk keluar-masuk ke Teluk Persia. Kini sekitar 200 kapal tanker pun tertahan, dan angka lalu lintas di Teluk Persia merosot hingga 80 persen sejak 1 Maret.

Sebagian negara dunia begitu membutuhkan selat ini untuk menyuplai minyak mentah atau "emas hitam", yang menjadi komoditas utama negara-negara Timur Tengah.

Selat Hormuz pun bertanggung jawab atas lalu lintas 20 hingga 30 persen minyak mentah dan gas alam dunia atau sekitar 20 juta barel secara harian. Lalu apa dampak penutupan ini bagi dunia? Dan bagaimana langkah Indonesia? Selengkapnya dalam PerANTARA! (Roy Rosa Bachtiar/Cahya Sari/Syamsul Rizal/Satrio Giri Marwanto/Farah Khadija)