Menghitung makan berbuka dapat hindari makanan mubazir

Eid offers momentum to exercise self-control to prevent COVID-19
Pedagang di pusat jajanan takjil di Jalan Hardiwinangun Rangkasbitung sibuk melayani pengunjung untuk persedian makanan berbuka puasa.
Jakarta (ANTARA) - Pegiat gaya hidup nol sampah (zero waste) Siska Nirmala menyarankan masyarakat untuk memperhitungkan pola makan saat berbuka dan sahur untuk menghindari makanan mubazir atau terbuang (food waste).

Dia mengatakan saat puasa banyak sekali makanan mubazir akibat lapar mata saja, padahal kemampuan makan setelah berbuka biasanya tidak banyak.

"Agar tidak ada yang makanan terbuang maka harus menahan diri dan perhitungkan pola makan waktu berbuka dan sahur," kata Siska saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin.

Dia mencontohkan untuk takjil saat berbuka, cukup sediakan satu dua jenis takjil saja.

Menurut Siska membuang makanan jelas disayangkan, dari perspektif Islam menyatakan umat muslim harus memuliakan atau menghargai makanan.

Jika dilihat dari perspektif proses produksi hingga distribusi makanan, proses yang dijalani makanan dari kebun hingga ke meja makan sangatlah panjang.

"Membuang-buang makanan, artinya kita juga menyia-nyiakan proses panjang itu," kata dia.

Dari perspektif masalah sampah, dia mengatakan food waste mendominasi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.

Sebanyak 50-60 persen sampah yang ada di TPA adalah organik seperti sisa potongan sayur buah, atau sisa masakan yang tidak dimakan.

Jadi dengan tidak menghasilkan sampah makanan, maka kita sudah membantu menyelesaikan sebagian besar masalah sampah.

Baca juga: Tetap sehat selama Ramadan kuncinya bukan hanya asupan makanan
Baca juga: Puasa sebentar lagi, hindari lima hal ini
Baca juga: Perlukah makanan selingan setelah Tarawih?

Indonesia rugi Rp551 triliun per tahun akibat sampah makanan

Pewarta:
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2019