Emak-emak di Sampit serbu toko perhiasan

COVID-19 Task Force chief performs Eid prayers at BNPB Building
Pembeli memadati Toko Mitra di Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit, Minggu (2/6/2019). (FOTO ANTARA/Norjani)
Sampit (ANTARA) - Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah, toko perhiasan di Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, makin ramai diserbu emak-emak atau kaum ibu-ibu.

"Sebagian besar mereka membeli perhiasan, tetapi ada juga yang menjual perhiasan mereka. Semua kami layani, tapi semua harus sabar karena yang datang sangat banyak," kata H Sani, pemilik toko emas Mitra di Pusat Perbelanjaan Mentaya Sampit, Minggu.

Peningkatan pengunjung ini terjadi sejak awal Ramadhan, namun lonjakan makin terasa setelah pekan kedua bulan suci Ramadhan. Itu diduga lantaran karyawan dan pegawai negeri sudah mendapatkan tunjangan hari raya (THR) dari tempat mereka bekerja sehingga banyak yang menggunakan uangnya untuk membeli perhiasan.

Pantauan di pasar tradisional terbesar di Kotawaringin Timur itu, toko milik H Sani memang terbilang paling laris. Warga bahkan harus antre menunggu giliran dilayani padahal jumlah pegawai toko tersebut sudah cukup banyak.

Makin mendekati Lebaran, jumlah pengunjung semakin banyak. H Sani menyebutkan, perbandingan warga yang datang membeli perhiasan sekitar 60 persen dibanding warga yang menjual perhiasan sekitar 40 persen.

H Sani menyebutkan, hari ini harga emas blok atau batangan Rp595.000 per gram, emas 999 atau Amerika Rp600.000/gram, emas 750 atau putih Rp535.000, emas 700 atau Singapur Rp480.000/gram, emas 420 Rp300.000/gram dan emas 375 Rp280.000/gram.

Warga yang datang menjual perhiasan umumnya beralasan sedang membutuhkan uang untuk mudik maupun persiapan Lebaran. Namun ada pula yang menjual perhiasan mereka karena ingin ditukar dengan perhiasan model terbaru.

"Menjelang Lebaran ini biasanya memang banyak yang membeli, tapi setelah Lebaran, giliran banyak mereka yang menjual perhiasan yang datang ke sini," kata H Sani.

Untuk mengantisipasi kejahatan memanfaatkan ramainya pengunjung, pemilik toko memasang kamera tersembunyi atau CCTV di beberapa titik. Dengan begitu, gerak-gerik siapapun yang datang ke toko itu akan terekam.

Warga yang datang tidak hanya dari pusat Kota Sampit, tetapi juga dari kecamatan pelosok, bahkan dari kabupaten tetangga. Ada pula merupakan pemudik yang sengaja datang ke toko perhiasan itu memanfaatkan waktu senggang sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal yang akan mereka tumpangi ke Pulau Jawa.

Sementara itu, tidak semua pembeli beralasan membeli perhiasan untuk dipakai saat lebaran. Ada pula yang membeli logam mulia itu sebagai investasi atau tabungan sehingga bisa dijual ketika memerlukan uang.

"Kebetulan dapat THR dari kantor, makanya langsung saya belikan perhiasan emas. Anggap sebagai tabungan, apalagi harga emas kan selalu naik. Kalau uangnya saya pegang, takutnya habis karena tergoda berbelanja barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan," kata Selvi, salah satu pembeli.

 
Pewarta:
Editor: Ahmad Buchori
Copyright © ANTARA 2019