Ka`ak; kue jamu khas Arab

Rabu, 15 Agustus 2012 09:38 WIB | Dilihat 4826 Kali
ilustrasi kue ka'ak (discoverlebanon.com/)
Surabaya (ANTARA News) - Kue untuk hidangan Lebaran yang satu ini tergolong istimewa.

Selain enak untuk camilan, kue berwarna coklat tua ini juga memiliki fungsi sebagai jamu, karena bahan-bahan untuk membuatnya yang mengandung khasiat. Ka`ak namanya.

Kue ka`ak adalah tradisi kuliner di kalangan etnis Arab.

Sebagai warisan kekayaan Indonesia, saat ini sudah tidak banyak lagi warga keturunan Arab yang membuat kue tersebut. Mungkin salah satu penyebabnya karena pembuatannya yang tergolong rumit.

Namun, di kalangan masyarakat Kabupaten Bondowoso, Jatim, kue ini sangat dikenal. Bahkan sejumlah masyarakat non-Arab juga suka membuatnya. Karena itu, tidak heran jika setiap Lebaran Idul Fitri tiba di masyarakat Kota Bondowoso masih banyak terhidang ka`ak di meja ruang tamu.

"Di Bondowoso memang ada sejumlah warga yang membuat kue ka`ak, meskipun bukan keturunan Arab. Tidak semua orang membuat kue ini saat Lebaran karena biayanya lebih mahal dibandingkan jajan biasa," tutur Evy, salah seorang pembuat ka`ak.

Warga Tenggarang, Bondowoso, ini mengemukakan bahwa dirinya memiliki keterampilan membuat kue istimewa ini setelah mendapatkan resep dari temannya. Diakui bahwa selain bahannya mahal, waktu pembuatan kue ini lebih lama.

Perempuan berprofesi sebagai guru ini mengungkapkan bahan yang dibutuhkan untuk membuat ka`ak adalah jahe, kayu manis, pala, merica, cengkih, kapulaga, adas, madu, telur ayam kampung, gula, tepung terigu, koya halus, minyak samin, mentega dan jinten hitam.

Dari bahan-bahan bumbu pengharum, semua bahan mengandung khasiat jamu, seperti jinten hitam, cengkih, adas, jahe, kapulaga, madu dan telur ayam kampung.

Seluruh bumbu atau rempah tersebut dijemur kering sebelum diolah. Setelah itu disangrai sebentar, kemudian digiling.

"Habis itu dibuat adonan. Adonan itu kemudian ditutup rapat dan dibiarkan selama 10 jam. Baru kemudian dibentuk jajan kecil-kecil bundar, lalu dioven," papar Evy.

Selain dalam bentuk kue kering, katanya, kue jenis kukis ini ada juga yang dibuat dalam bentuk lunak seperti roti, yang adonannya ditambah soda agar mengembang. Biasanya ka`ak lunak itu dikonsumsi dengan kopi jahe. Cara mengonsumsinya, Ka`ak dicelupkan ke kopi lalu dimakan.

"Biasanya yang lunak itu dikonsumsi sebelum sarapan pagi. Tapi setahu saya ka`ak yang seperti itu sudah jarang. Yang umum adalah ka`ak kering," ucapnya.

Sementara Sulastri yang juga pembuat ka`ak mengaku saat menjelang Lebaran ini banyak menerima pesanan, yakni sekitar 24 kg jajan kering. Ia mengaku membatasi pesanan karena tenaganya yang tidak mampu untuk menangani jika terlalu banyak.

"Soalnya membuatnya ruwet sekali, butuh waktu lama. Selain itu, biayanya memang lebih mahal, terutama bumbu yang terdiri dari aneka rempah itu, juga segelas madu dan minyak samin," tukasnya.

Kalau jajan biasa dengan biayanya Rp25.000 sudah jadi, ka`ak ini tiga kali lipatnya jajan biasa. Sebenarnya bisa saja membeli bumbu jadi yang banyak dijual di kampung Arab, namun rasanya tidak sreg kalau tidak meracik sendiri bumbunya, ujar perempuan yang membuka usaha di depan SMA Negeri 1 Tenggarang ini.

Ia mengaku mendapatkan keterampilan membuat jajan ini dari almarhum ibunya. Hampir setiap tahun ia membuat ka`ak.

Ahmad Baraas, salah seorang penggemar ka`ak mengemukakan bahwa kue tersebut rasanya enak dan gurih. Namun, warga Denpasar, Bali, ini mengaku kesulitan menemukakannya di daerah tinggalnya.

Karena itu, ia mengaku senang ketika ada salah seorang keluarga temannya di Bondowoso yang bisa membuat ka`ak. Ia mengemukakan bahwa istrinya termasuk penggemar ka`ak.

"Kue ini tentu saja menghangatkan badan dan bisa menjadi jamu karena bahan-bahannya," kata lelaki yang menekuni pengobatan alternatif tarik jarum dan akupuntur itu.

Sepengetahuan dirinya, kue ini merupakan warisan tempo dulu di kalangan Arab tapal kuda di Jawa Timur. Namun, saat ini kue itu sudah jarang ditemukan dan tidak pernah dijual di pasaran.

"Kue ini sangat istimewa di lingkungan kami. Dulu kalau Lebaran tidak ada kue ka`ak, rasanya kurang lengkap," ungkapnya.

(M026)